Aku Bisa Beruang dengan Itu

Bukan, judulnya bukan ini, tulisan kali ini kalau harus ditulis dalam bahasa Inggris kira-kira akan berjudul “I Can Bear with That”. Do you get it? :D Hmm… jadi apa yang mau saya ceritakan kali ini?

Sudah dua bulan lebih saya tinggal di kota Sydney dan saya masih saja kegirangan dengan segala fasilitas publiknya. Bus kota, kereta, dan juga kapal feri. Hanya monorail yang belum pernah saya naiki (sedikit cerita tentang ini… nanti di belakang). Semuanya menurut saya bisa diandalkan dan sangat bermanfaat untuk menjelajah ke segala penjuru kota Sydney.

Nah… tak disangka. Ternyata teman-teman saya yang orang Australia asli suka mengeluhkan fasilitas publik di sini. Buat mereka, transportasi publik di sini kurang bisa diandalkan. Sebagai contoh, bus kota terkadang telat beberapa menit dan untuk kereta terkadang ada perbaikan jaringan sehingga tak semua jalur beroperasi (walau akan disediakan bus pengganti). Lalu, ada teman-teman kuliah saya yang  berasal dari Singapura dan Shanghai pun sering mengutarakan kalau mereka rindu transportasi publik di tempat asal mereka. Sayang, saya belum pernah pergi ke Singapura, tak bisa membuat perbandingan, tapi memang, Mass Rapid Transit (MRT) Singapura sering sekali dipuji-puji.

Cerita lain adalah, di salah satu mata kuliah yang saya ikuti, kelas kami mengadakan kunjungan lapangan ke salah satu lokasi perumahan yang harganya terjangkau (affordable housing) di daerah Zetland, Sydney. Padanannya di Indonesia barangkali adalah rumah susun sederhana milik (rusunami). Dosen dan teman-teman saya lagi-lagi bilang, lokasi dan kondisinya kurang bagus, di pinggir jalan tol dan terlalu bising, kurang layak, dan kurang manusiawi. Saya memang tak sungguh masuk ke dalam affordable housing tersebut, hanya melihat dari luar, namun saya sudah terkagum-kagum dengan bangunannya yang tampak bersih dan rapi. Di mata kuliah yang lain lagi, sang dosen menunjukkan satu kawasan kumuh/slum di tahun 50-60an. Saya hanya bisa bengong, seperti itu dibilang slum? Buat saya, itu hanyalah bangunan bagus yang agak dekil dan kurang terawat.

Contoh affordable housing di Zetland, Sydney

Apa mereka yang kurang bersyukur? Atau saya yang terlalu nrimo dan standarnya kerendahan? Atau kita memang sungguh tertinggal? Atau mungkin kitalah yang begitu hebat karena bisa bertahan dengan kondisi apa saja? Sebagai pengguna setia bus Kopaja jalur 19 di Jakarta yang hanya Tuhan dan sopir yang tahu apakah trayeknya akan habis di Blok M atau terus ke Cilandak, semua yang saya temui di sini rasanya sudah sangat lebih dari cukup. I can bear with that. Totally.

Di sisi lain, bisa jadi kabar baiknya adalah, dengan logika bodoh saya, fasilitas publik di Indonesia mungkin tak butuh perbaikan atau reformasi yang drastis. Kalau dengan layanan-layanan yang ada selama ini, manusia Indonesia bisa bertahan, barangkali sedikit perbaikan saja sudah cukup? Ini tentu tawaran yang sungguh ngga mutu dari mahasiswa yang belajar perencanaan kota.Tapi siapa tahu? Coba dimulai dari sedikit perbaikan dan perubahan saja. Asalkan mau (karena saya yakin ini jelas bisa dilakukan). Misal, untuk Jakarta, mungkin tak perlu semua bus kota diganti dengan busway dan MRT. Kalau misal Kopaja dan Metromini sedikit dibersihkan dan dirapikan lalu jadwalnya ditertibkan dengan tak boleh mengganti trayek seenak udel? Hm… barangkali?

Oh iya, tentang monorail di Sydney, monorail di sini ternyata dianggap kurang efektif. Monorail Sydney dikelola oleh pihak swasta dan tidak benar-bernat terintegrasi dengan moda transportasi lainnya seperti bus kota dan kereta.  Monorail di sini dianggap tidak benar-benar mengatasi kemacetan Sydney (yang lagi-lagi buat saya, hah, ini dibilang macet?). Jadi, monorail ini akan dihapus. Kota lain seperti Hobart di Tasmania kabarnya tertarik untuk mendaur ulang kereta monorail Sydney. Mungkin Jakarta juga bisa ikutan menawar? Jakarta kan sudah punya tiangnya.

 

Posted in Ide, Peristiwa | Tagged , , | 1 Comment

(Ojo) Gumunan

Ojo gumunan atau jangan mudah kagum mungkin adalah salah satu istilah Jawa yang sering terdengar. Namun, sayangnya (atau untungnya?), pedoman itu tak bisa saya terapkan ketika akhirnya terdampar di satu negeri baru di bawah sana. Sudah sekitar seminggu ini saya tinggal di kota Sydney, Australia. Kota ini menjadi tempat tinggal saya selama sekitar 1,5 tahun karena di kota ini saya akan menempuh studi lanjut. Selain ini adalah tempat baru, ini adalah kali pertama saya pergi jauh, deg deg deg… Tak pernah sebelumnya saya pergi jauh melebih meloncat ke pulau Bali.

Belum banyak yang saya kunjungi di kota ini, namun apa yang sudah ditemui membuat saya belum berhenti juga untuk berdecak kagum. Saya harus berjalan kaki ke mana saja padahal saya tinggal di kawasan suburbia yang medannya lumayan berbukit. Untungnya, walau sedang musim panas, cuaca di sini tidak lembab sehingga tak harus bercucuran keringat, tapi memang kadang angin bertiup cukup kencang. Universitas saya pun terletak di kawasan yang cukup berbukit tersebut, sangat indah namun jumlah tangganya luar biasa banyak! Tapi tentunya itu semua terbayar melihat begitu banyaknya referensi yang ada, pengalaman dan pelajaran yang akan didapat, serta teman-teman baru dari berbagai engara.

Ketika saya pergi ke pusat kota Sydney, hati sedikit berdesir ketika akhirnya melihat Opera House dan Harbour Bridge yang sebenarnya, goosebump! Lalu sekilas melihat monorail dengan tiang langsing menyelip di antara bangunan-bangunan tinggi di atas jalanan yang tak begitu lebar, membuat saya jadi terngiang pada tiang-tiang monorail yang terbengkalai di sepanjang Kuningan di Jakarta. Taman-taman di sini luar biasa, begitu pula sarana transportasinya. Selain itu, saya pun suka melihat gaya pakaian Sydneysiders, gaya! Walau kadang (eh sering mungkin), pakaian mereka sungguh irit di tengah Sydney yang sangat berangin. Nah, jadi penasaran berapa banyak stok tolak angin yang harus mereka punya :D

Entah sampai kapan saya masih akan terkagum-kagum. Semoga di sini saya memang akan banyak belajar dan tak lupa untuk berbagi cerita lainnya.

 

Salam hangat (plus anginnya) dari Sydney!

Posted in Peristiwa | Tagged , | 2 Comments

Bahasa Menunjukkan Bangsa?

Photo courtesy of Casey Serin

Photo courtesy of Casey Serin

Lini masa di wadah media sosial twitter beberapa hari ini (sebelum ada kasus kamseupay) sedang ramai dengan berita Gita Wirjawan yang meminta pegawainya untuk punya nilai TOEFL 600 (Link terkait di sini, sini, dan sini). Saya pun jadi gatal untuk ikut menulis tentang hal ini, walau mungkin dari segi yang sedikit berbeda. Yah… karena saya memang agak gemar* (eh…) untuk mengikuti ujian bahasa semacam TOEFL dan teman-temannya itu.

Ujian-ujian bahasa tersebut kebanyakan bertujuan sebagai syarat bersekolah atau bekerja di luar negeri. Ada juga yang sekaligus menjadi syarat untuk tinggal di suatu negara misalnya di Perancis dan Jerman. Ujian bahasa ini bisa diselenggarakan oleh yayasan tertentu seperti pada TOEFL dan IELTS atau juga oleh institusi pemerintah negara tersebut misalnya untuk Perancis dan juga (sepertinya) Jerman. Tergantung tujuannya, kadang ada juga jenis ujian yang sifatnya lebih ke akademik dan ada juga yang khusus untuk kesiapan kerja (misal:IELTS Academics dan IELTS General Training).

Beberapa ujian bahasa yang pernah saya coba adalah TOEFL atau Test of Foreign Language (TOEFL paper based tak resmi dan internet based yang resmi), IELTS atau International English Language Testing System yang lebih banyak digunakan oleh negara-negara persemakmuran Inggris, dan juga DELF alias Diplôme d’études en langue française untuk bahasa Perancis. Lalu, apa yang saya pelajari dari “hobi” saya mengikuti ujian-ujian tersebut? Continue reading

Posted in Ide | Tagged , , , , , , | 2 Comments

Wajar Tak Wajar

Kemarin, saya naik sebuah Metromini no 47 untuk pergi ke rumah saudara saya di daerah Jakarta Timur. Belum sampai tujuan, kenek menyuruh turun untuk pindah ke bus di belakangnya. Oper, demikian istilahnya. Aneh juga, padahal bus cukup penuh dan jalur ini juga masih cukup ramai. Setelah aba-aba sang kenek tersebut, sontak, para penumpang pun kemudian bergegas untuk turun. Kecuali satu ibu. Sang Ibu tersebut menolak turun sambil terus mengomel. Dan ia juga meminta penumpang lain untuk jangan mau berganti bus. “Kok mau sih yang lain pada turun,” begitu katanya. Dia berujar kalau penumpang tak mau turun, bus ini pasti akan terus jalan.

Para penumpang lain yang turun melihat ke arah sang Ibu dengan pandangan seolah-olah bahwa Ibu itu terlalu menuntut. Kalau ada yang berani berkomentar mungkin kata-kata “Terima saja, Bu” akan meluncur. Saya pun awalnya berpikir demikian. Walau setelah dipikir-pikir, betul juga sebenarnya apa kata Ibu tersebut. Ibu tukang protes ini justru tak salah. Ia menuntut haknya. Dan kita sebagai konsumen sebenarnya bisa memilih untuk tidak pasrah, menolak untuk diperlakukan seenaknya.

Aneh, Ibu yang sebenarnya sangat wajar untuk meminta haknya, malah menjadi tampak tak wajar. Dan kita memang sudah menjelma menjadi terlalu sabar dan nrimo? Padahal kita punya pilihan. Kalau bisa dan kalau mau.


Posted in Peristiwa | Tagged , , | 5 Comments

Boleh dan Tidak Boleh (Tamu atau Pembantu?)

Down to the Swimming Pool Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan berkunjung ke apartemen seorang kerabat, apartemen yang bagus dengan beberapa kamar. Tentu saja di apartemen tersebut ada kolam renang. Walau tanpa persiapan, namun karena tergoda untuk berenang, nyeburlah saya ke kolam renang dengan mengenakan kaos dan celana pendek. Tak siap dengan baju renang.

Nah, lalu ada satpam bertanya/menegur, “Tamu atau pembantu?” Hah, saya pun melongo. Berenang dengan kaos dan celana pendek plus menemani 2 keponakan usia TK tampaknya membuat si satpam memunculkan praduga tersebut. Entah, dari pertanyaannya tersebut, dia lebih yakin dengan yang mana. Si satpam pun melanjutkan, ” Kalau berenang harus dengan pakaian renang, nanti penghuni lain komplain kalau saya membolehkan.”  Continue reading

Posted in Peristiwa | Tagged , , | 4 Comments