Parkir Bawah Tanah

Jakarta selalu membuat saya takjub, ada macam-macam hal yang bisa ditemui. Contohnya saja kawasan SCBD (Senayan Central Business District) yang tak punya kabel malang-melintang di atasnya, utilitas ditanam di bawah tanah. SCBD sangat rapi, modern dengan gedung-gedung jangkung. Terkadang, saya merasa kehilangan orientasi sejenak jika sedang di SCBD. Bertanya-tanya, di manakah aku berada? Singapura? Nah, tapi saya kaget menemukan terowongan underpass yang berfungsi sebagai tempat parkir sepeda motor.  Kebetulan, gedung yang saya kunjungi ternyata tak punya tempat parkir sepeda motor. Perencanaan yang meleset? Atau implementasi yang kreatif? Hehehe, yang pasti, ini bukti bahwa SCBD tetap setia memanfaatkan bawah tanah yang sebenar-benarnya…

Terowongan underpass di kawasan SCBD yang dipakai untuk tempat parkir sepeda motor

Terowongan underpass di kawasan SCBD yang dipakai untuk tempat parkir sepeda motor

Rupiah, Saham, dan Properti

Rupiah dan saham di Indonesia sedang jeblok, akankah ada dampaknya terhadap properti? Ah… harga properti kan naik terus, jadi properti adalah investasi yang aman? Itu lho, seperti iklan-iklan yang banyak ditemui di koran dan televisi.

Nah, kemarin kompas.com menurunkan berita berjudul “Fluktuasi Rupiah Belum Goyang Sektor Properti”. Dalam berita itu disebutkan, kondisi buruk rupiah tidak akan mempengaruhi properti secara langsung, kecuali jika pelemahan ini berlangsung secara jangka panjang.

“Bila hal itu terjadi, sektor yang paling rentan terkena dampaknya adalah ruang komersial ritel atau pusat belanja, kawasan industri dan perkantoran. Menguatnya Dollar dalam jangka waktu lama akan berdampak pada penurunan permintaan sebagai akibat dari lonjakan harga sewa dan turunnya tingkat hunian,” Hendra, Leads Property (Kompas, 20 Agustus 2013)

Kenapa itu bisa terjadi? Saya akan coba menjawabnya.
1. Properti tidak liquid/cair, berbeda dengan saham. Transaksi saham berlangsung setiap hari dan harganya juga bergerak setiap hari. Beda dengan properti, kita tidak bisa menjual properti  dengan cepat. Ngomong-ngomong, properti yang tidak bisa dijual dengan cepat ini adalah salah satu kelemahan berinvestasi di sektor properti.


2. Sedikit kabar buruk pada suatu perusahaan, harga sahamnya bisa langsung turun drastis. Sementara itu reaksi pasar properti tidak bisa langsung. Properti terkait dengan proses konstruksi, bangunan itu sendiri, proses jual-beli/sewa yang berlapis, pengguna ruang, dan masih banyak lagi. Mari kita ambil contoh:
- Kondisi ekonomi memburuk memaksa perusahaan-perusahaan melakukan PHK dan menghentikan sewa ruang kantor. Namun itu tidak terjadi tiba-tiba esok hari, butuh waktu. Penurunan permintaan di sektor properti ketika ekonomi melemah juga terjadi, namun mungkin baru akan berlangsung beberapa bulan kemudian.
- Begitu juga sebaliknya, saat ekonomi tumbuh pesat, pusat perbelanjaan dan kantor-kantor akan melakukan ekspansi. Kemungkinan besar, mereka akan memerlukan ruang atau bangunan tambahan. Tentu saja, membangun gedung baru butuh waktu.

Yang paling celaka adalah misal mall baru dibangun di suatu kota dan ketika mall itu selesai dan siap beroperasi, ekonomi sudah melambat dan kios-kios pun kosong tak laku. Celaka makin berlipat kalau dollar terus menguat dan bangunan tersebut dibangun dengan hutang dari luar negeri. Seperti kata seorang teman saya, hal ini bisa menyebabkan gagal bayar dan bangunan tak selesai. Saya paling sedih kalo menemukan bangunan besar yang kosong dan mangkrak. Mengutip salah satu dosen saya di UGM, ini adalah sebuah pemborosan tata ruang.

Untuk lebih jelasnya bisa dilihat di grafik berikut. Mohon maaf saya pakai data dari Australia. Saya justru tak punya data tentang Indonesia, jelas bahwa saya masih harus belajar lagi. Garis hijau/S&P/ASX 200 mewakili saham di Australia dan garis merah/Direct Property mewakili indeks properti. Garis merah vertikal merah menunjukkan ketika ekonomi sedang mencapai puncak, reaksi sektor properti lebih lambat beberapa waktu (lihat titik merah). Begitu pula saat krisis ekonomi 2008 di Australia (lihat garis vertikal jingga). Ketika saham sudah jeblok, sektor properti baru menyusul beberapa bulan kemudian (lihat titik jingga).

Grafik Total Return Properti di Australia (Sumber: IPD Australia dalam Property Council Australia Leading Indicator April 2012)

Grafik Total Return Properti di Australia (Sumber: IPD Australia dalam Property Council Australia Leading Indicator April 2012)
Ket: Total return terdiri dari capitalisation return (misal:harga properti setelah n-tahun) dan income return (misal:pemasukan sewa)

Kembali ke paragraf awal tentang harga properti naik terus. Kalau dari grafik di atas, apakah harga properti naik terus? Hmm… jawabannya tidak. Yang pasti, dari grafik tersebut, sektor properti memang lebih stabil dibanding pergerakan saham yang bisa sangat jeblok namun juga sangat tinggi. Namun bukan berarti sektor properti aman sepenuhnya dari kondisi ekonomi yang memburuk. Tapi itu data Australia, kalau Indonesia? Nanti saya tulis di tulisan terpisah ya, jangan lupa tagih saya (alasan ding… padahal masih harus belajar dan mengumpulkan data lagi, hehehe)

Sebuah Paket Lengkap

Sejujurnya, saya dulu tidak ingin belajar ke Australia. Amerika dan Eropa sepertinya jauh lebih menarik dan keren (oops…). Selepas S1, saya sempat hampir berhasil berangkat ke Eropa karena lolos sebagai cadangan suatu beasiswa… hampir, hanya hampir saja. Selang sekitar dua tahun kemudian, kesempatan melanjutkan belajar akhirnya datang dari Australia. Belajar di Australia ternyata menjadi salah satu pengalaman hidup paling berharga yang pernah saya temui. Jadi, duhai Australia, maafkan aku kalau dulu sempat memandangmu sebelah mata.

Australia, terutama Sydney tempat saya tinggal sangat beragam dari segi budaya. Terlebih, kampus saya, University of New South Wales punya identitas global yang kental. Di sini saya bertemu dosen-dosen atau tutor yang berasal dari berbagai negara. Di Australia yang terpencil ini, ternyata saya bisa mencicipi belajar dengan rasa Amerika, Italia, atau Korea. Sungguh lucu, ini seperti menjawab keinginan sebelumnya untuk studi lanjut di Eropa atau Amerika.

Seorang teman saya dari Bali pernah berujar kalau lebih banyak bule di Bali daripada di Sydney. Ahaha… mungkin ada benarnya. Selain dosen, teman dan kenalan baru di sini pun berasal dari berbagai macam negara, tak hanya dari Australia. Sungguh menyenangkan berbagi cerita dengan mereka. Kadang juga harus sedikit hati-hati ketika bekerja bersama dalam tugas kelompok, setiap orang punya kebiasaan dan cara pandang yang berbeda. Harus hati-hati supaya komunikasi lancar dan tidak ada salah paham. Inilah yang membuat kuliah di Sydney semakin seru, bagaimana harus belajar menghadapi perbedaan.

Aceh Jogja dan Kupang... sangat akur :)

Perantau dan turis dari Aceh, Jogja, dan Kupang di Sydney Easter Show 2013… sangat akur :)

Saya juga bertemu teman-teman Indonesia yang sungguh-sungguh dari Sabang sampai Merauke. Aceh, Papua, Kupang, ataupun Kupang yang aslinya dari Timor Leste. Saya jadi mendengar kisah-kisah kelam dari era Orde Baru. Hal-hal yang tak pernah dibayangkan seorang gadis rumahan dari Jogja yang tak tahu apa-apa. Di sini juga  banyak teman-teman keturunan Tionghoa yang sangat bangga menjadi Indonesia. Sungguh ironis ketika di Indonesia mereka kurang dianggap Indonesia, disebut dengan “Cino”. Lalu, ketika beberapa waktu lalu ada berita dari Jogja tentang hubungan yang kurang baik antara warga Jogja asli dan pendatang dari daerah seperti NTT, well… mereka justru menjadi sahabat-sahabat terdekat saya di kota Sydney ini. Continue reading

Taken for Granted

Minggu lalu saya menonton tiga film di Sydney Film Festival. The Act of Killing alias Jagal, Cities on Speed:Bogota Change dan Before Midnight. Cuplikan trailer dan komentar singkat akan film-film tersebut ada di akhir tulisan ini.

Menonton film-film tersebut membuat saya merenung. Ada banyak hal yang saya bisa nikmati secara “taken for granted” selama saya tinggal di Sydney ini. Hal-hal yang mungkin akan susah saya akses sekembalinya saya ke Indonesia nanti. Continue reading

All I Want Need for Christmas

All I want for Christmas? Berat badan turun? Waduh, sejak kapan saya jadi kepikiran soal berat badan? Mungkin faktor gegar budaya, yang pasti, selama hampir setahun ini tinggal di Sydney berat badan saya memang naik, setelah di bulan-bulan awal justru turun.

Pertama kali tiba di Sydney, saya terkaget-kaget dengan porsi makan di sini. Fish and chips, menu yang banyak terdapat di sini, terdiri dari satu potong besar atau beberapa potong ikan goreng tepung ditambah kentang goreng. Jangan bandingkan dengan kentang goreng ukuran kecil dari KFC atau McDonald’s di Indonesia, kentang goreng dalam fish and chips ini mungkin porsinya lebih banyak sekitar 3-4 kali lipat. Saya tak sanggup menghabiskannya dalam satu kali kesempatan. Satu porsi baru akan habis untuk 2-3 kali makan. Porsi makan masih ala Indonesia, ditambah kekagetan harus berjalan kaki ke segala tempat, saya pun “mengurus” di bulan-bulan awal tinggal di Sydney.

Fish and Chips at the Opera House cafe

Fish and Chips - Jonas Lamis

Namun, itu hanya di bulan-bulan awal.

Continue reading