Kampung atau Kota?

Tahun 2050, diperkirakan akan lebih banyak penduduk dunia tinggal di kawasan perkotaan. Kalimat ini selalu menjadi pembuka berbagai narasi tentang kota selama beberapa tahun terakhir ini. Estimasi ini kemudian juga menjadi pembenaran dan dasar berbagai perencanaan dan pembangunan infrastruktur yang masif. Kota harus siap menampung para penghuni baru perkotaan tersebut.

Jalan layang, MRT, apartemen-apartemen tinggi, dan masih banyak lagi.

Tapi apa benar kita harus terus membangun? Bagaimana dengan dampak lingkungan? Belum lagi warga-warga yang harus tercerabut dari tempat asalnya untuk memberi ruang kepada pembangunan baru tersebut. Kenapa kita tidak mengulik lagi soal kampung atau kearifan lokal? Toh, kita pernah punya program yang sukses melalui KIP (Kampung Improvement Program) seperti pada MH Thamrin KIP beberapa dekade lalu.

Sayangnya kota- kota kita bukan lagi sekedar kampung. Ukuran kota-kota kecil kita terhitung masif dibandingkan dengan kota-kota di dunia barat sana. Dan kota-kota kita mengkota dengan sangat cepat, lengkap beserta segala resikonya[1].

Saya lalu teringat dengan laporan mantan Special Rapporteur dari PBB untuk perumahan yang layak di tahun 2013. Dalam catatan selepas mengunjungi Indonesia, Raquel Rolnik mengapresiasi praktek peremajaan kampung kumuh namun menyayangkan skalanya yang terbatas[2].

Masalah skala ini perlu menjadi perhatian. Begitu banyak inisiatif di skala komunitas atau kawasan perkotaan untuk lingkungan yang lebih baik. Peremajaan kampung, bank sampah, ataupun pertanian perkotaan. Kadang pemerintah kota ada di sana, namun kadang usaha tersebut murni inisiatif warga kampung ketika pemerintah kota tiada, karena tak ada pilihan lain. Sayangnya, banyak dari inisiatif-inisiatif tersebut berjalan sendiri-sendiri dan kadang bisa bertentangan satu sama lain.

Saya percaya ini saatnya pemerintah kota ambil peranan lebih. Permasalahan kota mulai dari kemiskinan, kekurangan air, banjir dan lain-lain, semakin hari semakin rumit dan saling terkait satu sama lain. Kita tidak bisa lagi melihat isu-isu tersebut per kawasan atau per kampung. Pemerintah kota perlu hadir untuk menjadi fasilitator, membaca tantangan perkotaan dari kacamata sistem dan menawarkan solusi yang terpadu termasuk infrastruktur skala masif jika perlu.

Pemerintah kota rasanya juga memiliki posisi yang tepat. Cakupannya cukup luas untuk melihat permasalahan secara terpadu namun di ranah implementasi dan kebijakan masih cukup operasional. Pemerintah kota juga memiliki jarak yang relatif dekat dengan masyarakat, memungkinkan warga untuk menyuarakan pendapatnya jika ada yang tak berkenan. Pendekatan yang inklusif dan partisipatif pun masih bisa dijalankan.

Saya cukup optimis, terlebih belakangan kita lebih sering mendengar walikota-walikota yang inovatif dan berdedikasi. Jika kapasitas pemerintah kota belum sip? Mungkin ini saatnya LSM-LSM dan kalangan akademisi untuk melakukan advokasi, pemberdayaan dan kolaborasi yang lebih intensif bersama pemerintah kota.

Ya. Kampung-kampung kita sudah menjadi kota-kota yang masif. Nostalgia dan romantisme akan kampung mestinya mengilhami diskusi dan implementasi di skala kota, untuk kota dan kehidupan yang lebih baik.

[1] Muggah, “Visualizing Urban Fragility – United Nations University Centre for Policy Research.”

[2] Rolnik, “Report of the Special Rapporteur on Adequate Housing as a Component of the Right to an Adequate Standard of Living, and on the Right to Non-Discrimination in This Context, Raquel Rolnik.

 

Menempel di Kepala

Selama 2015, saya tak menayangkan satu tulisan pun di blog ini. Ah, jadi ingin sedikit melakukan kilas balik.

Saya ngeblog sejak awal 2000an, walaupun tak selalu teratur dan beberapa layanan tempat saya menumpang sudah lenyap. Mungkin bangkrut? Seperti laman lama saya di confuzzled.blogsome.com, padahal di situ saya cukup produktif.  Ada juga blog yang masih selamat, curhatan kala SMA nan alay (oops, alamatnya rahasia ;>). Ada cerita tentang saya yang bersedih karena kehilangan  lima ribu perak (saja), luar biasa banyaknya saat itu.  Ataupun, cerita tentang saya yang baru saja menonton Meteor Rain dan A Walk to Remember (Oh F4 dan Mandy Moore, apa kabar kalian sekarang?). 

Apakah blog kini masih relevan? Pesatnya perkembangan media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram membuat godaan untuk posting apapun. Secepat mungkin, singkat saja, mendapatkan like dan balasan sebanyak-banyaknya.

Sering namun tak dalam. Serba instan.

Begitu banyak informasi, lewat dan berlalu. Tak sempat diresapi dan dipahami sepenuhnya.

Jadi saya ingin kembali menulis lagi. Menulis tulisan yang tak hanya dibatasi oleh 144 karakter, lewat, dan lalu lenyap di tengah berjuta-juta kicauan lainnya. Lagipula, ada banyak manfaat menulis. Kata salah satu blogger favorit saya, menulis membantu pikiran tetap tajam, mencerminkan perubahan yang kita alami, ataupun memancing kita untuk memunculkan ide-ide baru. Saya amini. Walau sudah bertahun-tahun berlalu, hal yang pernah saya tuliskan dulu memang relatif lebih menempel di kepala.

Baiklah, kita lihat saja bagaimana janji dan niat ini akan dipenuhi.

NB: Jika ada waktu luang, rasanya ingin menyelamatkan catatan lawas melalui The Wayback Machine. Silakan dicoba, jika perlu!

 

 

Parkir Bawah Tanah

Jakarta selalu membuat saya takjub, ada macam-macam hal yang bisa ditemui. Contohnya saja kawasan SCBD (Senayan Central Business District) yang tak punya kabel malang-melintang di atasnya, utilitas ditanam di bawah tanah. SCBD sangat rapi, modern dengan gedung-gedung jangkung. Terkadang, saya merasa kehilangan orientasi sejenak jika sedang di SCBD. Bertanya-tanya, di manakah aku berada? Singapura? Nah, tapi saya kaget menemukan terowongan underpass yang berfungsi sebagai tempat parkir sepeda motor.  Kebetulan, gedung yang saya kunjungi ternyata tak punya tempat parkir sepeda motor. Perencanaan yang meleset? Atau implementasi yang kreatif? Hehehe, yang pasti, ini bukti bahwa SCBD tetap setia memanfaatkan bawah tanah yang sebenar-benarnya…

Terowongan underpass di kawasan SCBD yang dipakai untuk tempat parkir sepeda motor

Terowongan underpass di kawasan SCBD yang dipakai untuk tempat parkir sepeda motor

Rupiah, Saham, dan Properti

Rupiah dan saham di Indonesia sedang jeblok, akankah ada dampaknya terhadap properti? Ah… harga properti kan naik terus, jadi properti adalah investasi yang aman? Itu lho, seperti iklan-iklan yang banyak ditemui di koran dan televisi.

Nah, kemarin kompas.com menurunkan berita berjudul “Fluktuasi Rupiah Belum Goyang Sektor Properti”. Dalam berita itu disebutkan, kondisi buruk rupiah tidak akan mempengaruhi properti secara langsung, kecuali jika pelemahan ini berlangsung secara jangka panjang.

“Bila hal itu terjadi, sektor yang paling rentan terkena dampaknya adalah ruang komersial ritel atau pusat belanja, kawasan industri dan perkantoran. Menguatnya Dollar dalam jangka waktu lama akan berdampak pada penurunan permintaan sebagai akibat dari lonjakan harga sewa dan turunnya tingkat hunian,” Hendra, Leads Property (Kompas, 20 Agustus 2013)

Kenapa itu bisa terjadi? Saya akan coba menjawabnya.
1. Properti tidak liquid/cair, berbeda dengan saham. Transaksi saham berlangsung setiap hari dan harganya juga bergerak setiap hari. Beda dengan properti, kita tidak bisa menjual properti  dengan cepat. Ngomong-ngomong, properti yang tidak bisa dijual dengan cepat ini adalah salah satu kelemahan berinvestasi di sektor properti.


2. Sedikit kabar buruk pada suatu perusahaan, harga sahamnya bisa langsung turun drastis. Sementara itu reaksi pasar properti tidak bisa langsung. Properti terkait dengan proses konstruksi, bangunan itu sendiri, proses jual-beli/sewa yang berlapis, pengguna ruang, dan masih banyak lagi. Mari kita ambil contoh:
– Kondisi ekonomi memburuk memaksa perusahaan-perusahaan melakukan PHK dan menghentikan sewa ruang kantor. Namun itu tidak terjadi tiba-tiba esok hari, butuh waktu. Penurunan permintaan di sektor properti ketika ekonomi melemah juga terjadi, namun mungkin baru akan berlangsung beberapa bulan kemudian.
– Begitu juga sebaliknya, saat ekonomi tumbuh pesat, pusat perbelanjaan dan kantor-kantor akan melakukan ekspansi. Kemungkinan besar, mereka akan memerlukan ruang atau bangunan tambahan. Tentu saja, membangun gedung baru butuh waktu.

Yang paling celaka adalah misal mall baru dibangun di suatu kota dan ketika mall itu selesai dan siap beroperasi, ekonomi sudah melambat dan kios-kios pun kosong tak laku. Celaka makin berlipat kalau dollar terus menguat dan bangunan tersebut dibangun dengan hutang dari luar negeri. Seperti kata seorang teman saya, hal ini bisa menyebabkan gagal bayar dan bangunan tak selesai. Saya paling sedih kalo menemukan bangunan besar yang kosong dan mangkrak. Mengutip salah satu dosen saya di UGM, ini adalah sebuah pemborosan tata ruang.

Untuk lebih jelasnya bisa dilihat di grafik berikut. Mohon maaf saya pakai data dari Australia. Saya justru tak punya data tentang Indonesia, jelas bahwa saya masih harus belajar lagi. Garis hijau/S&P/ASX 200 mewakili saham di Australia dan garis merah/Direct Property mewakili indeks properti. Garis merah vertikal merah menunjukkan ketika ekonomi sedang mencapai puncak, reaksi sektor properti lebih lambat beberapa waktu (lihat titik merah). Begitu pula saat krisis ekonomi 2008 di Australia (lihat garis vertikal jingga). Ketika saham sudah jeblok, sektor properti baru menyusul beberapa bulan kemudian (lihat titik jingga).

Grafik Total Return Properti di Australia (Sumber: IPD Australia dalam Property Council Australia Leading Indicator April 2012)

Grafik Total Return Properti di Australia (Sumber: IPD Australia dalam Property Council Australia Leading Indicator April 2012)
Ket: Total return terdiri dari capitalisation return (misal:harga properti setelah n-tahun) dan income return (misal:pemasukan sewa)

Kembali ke paragraf awal tentang harga properti naik terus. Kalau dari grafik di atas, apakah harga properti naik terus? Hmm… jawabannya tidak. Yang pasti, dari grafik tersebut, sektor properti memang lebih stabil dibanding pergerakan saham yang bisa sangat jeblok namun juga sangat tinggi. Namun bukan berarti sektor properti aman sepenuhnya dari kondisi ekonomi yang memburuk. Tapi itu data Australia, kalau Indonesia? Nanti saya tulis di tulisan terpisah ya, jangan lupa tagih saya (alasan ding… padahal masih harus belajar dan mengumpulkan data lagi, hehehe)

Sebuah Paket Lengkap

Sejujurnya, saya dulu tidak ingin belajar ke Australia. Amerika dan Eropa sepertinya jauh lebih menarik dan keren (oops…). Selepas S1, saya sempat hampir berhasil berangkat ke Eropa karena lolos sebagai cadangan suatu beasiswa… hampir, hanya hampir saja. Selang sekitar dua tahun kemudian, kesempatan melanjutkan belajar akhirnya datang dari Australia. Belajar di Australia ternyata menjadi salah satu pengalaman hidup paling berharga yang pernah saya temui. Jadi, duhai Australia, maafkan aku kalau dulu sempat memandangmu sebelah mata.

Australia, terutama Sydney tempat saya tinggal sangat beragam dari segi budaya. Terlebih, kampus saya, University of New South Wales punya identitas global yang kental. Di sini saya bertemu dosen-dosen atau tutor yang berasal dari berbagai negara. Di Australia yang terpencil ini, ternyata saya bisa mencicipi belajar dengan rasa Amerika, Italia, atau Korea. Sungguh lucu, ini seperti menjawab keinginan sebelumnya untuk studi lanjut di Eropa atau Amerika.

Seorang teman saya dari Bali pernah berujar kalau lebih banyak bule di Bali daripada di Sydney. Ahaha… mungkin ada benarnya. Selain dosen, teman dan kenalan baru di sini pun berasal dari berbagai macam negara, tak hanya dari Australia. Sungguh menyenangkan berbagi cerita dengan mereka. Kadang juga harus sedikit hati-hati ketika bekerja bersama dalam tugas kelompok, setiap orang punya kebiasaan dan cara pandang yang berbeda. Harus hati-hati supaya komunikasi lancar dan tidak ada salah paham. Inilah yang membuat kuliah di Sydney semakin seru, bagaimana harus belajar menghadapi perbedaan.

Aceh Jogja dan Kupang... sangat akur :)

Perantau dan turis dari Aceh, Jogja, dan Kupang di Sydney Easter Show 2013… sangat akur 🙂

Saya juga bertemu teman-teman Indonesia yang sungguh-sungguh dari Sabang sampai Merauke. Aceh, Papua, Kupang, ataupun Kupang yang aslinya dari Timor Leste. Saya jadi mendengar kisah-kisah kelam dari era Orde Baru. Hal-hal yang tak pernah dibayangkan seorang gadis rumahan dari Jogja yang tak tahu apa-apa. Di sini juga  banyak teman-teman keturunan Tionghoa yang sangat bangga menjadi Indonesia. Sungguh ironis ketika di Indonesia mereka kurang dianggap Indonesia, disebut dengan “Cino”. Lalu, ketika beberapa waktu lalu ada berita dari Jogja tentang hubungan yang kurang baik antara warga Jogja asli dan pendatang dari daerah seperti NTT, well… mereka justru menjadi sahabat-sahabat terdekat saya di kota Sydney ini. Continue reading