All I Want Need for Christmas

All I want for Christmas? Berat badan turun? Waduh, sejak kapan saya jadi kepikiran soal berat badan? Mungkin faktor gegar budaya, yang pasti, selama hampir setahun ini tinggal di Sydney berat badan saya memang naik, setelah di bulan-bulan awal justru turun.

Pertama kali tiba di Sydney, saya terkaget-kaget dengan porsi makan di sini. Fish and chips, menu yang banyak terdapat di sini, terdiri dari satu potong besar atau beberapa potong ikan goreng tepung ditambah kentang goreng. Jangan bandingkan dengan kentang goreng ukuran kecil dari KFC atau McDonald’s di Indonesia, kentang goreng dalam fish and chips ini mungkin porsinya lebih banyak sekitar 3-4 kali lipat. Saya tak sanggup menghabiskannya dalam satu kali kesempatan. Satu porsi baru akan habis untuk 2-3 kali makan. Porsi makan masih ala Indonesia, ditambah kekagetan harus berjalan kaki ke segala tempat, saya pun “mengurus” di bulan-bulan awal tinggal di Sydney.

Fish and Chips at the Opera House cafe

Fish and Chips - Jonas Lamis

Namun, itu hanya di bulan-bulan awal.

Lama kelamaan, saya pun mulai terbiasa dengan porsi makan ala bule ini. Selain fish and chips, kadang-kadang pergi barbeque-an (daging tentu saja, so Oz! :>) atau makan steak di restoran. Ukuran daging steak ini biasanya sekitar 250 g, yang jika dikurs-kan  mungkin setara beberapa mangkok soto daging. Perbandingan asal-asalan yang cukup valid secara statistik, konsumsi daging di Australia ternyata sepuluh kali lipat daripada di Indonesia. Sayangnya saya bukan penggila olahraga, jarang lari pagi dan tidak pernah pergi ke gym seperti para bule berotot warga asli Sydney, begitulah kisah mengapa saya pun ternyata bisa juga agak menggendut (kalau kata Obelix, montok, bukan gendut).

Hal ini membuat saya jadi merenung, tentang rasa ingin dan tentang apa yang benar-benar dibutuhkan. Apa semua ini benar-benar perlu? Seperti pola makan saya yang mulai berubah. Di luar itu, di masa-masa Natal ini, suasana Sydney sungguh meriah, indah, dan mewah. Aneka dekorasi Natal, boneka Sinterklas ataupun pohon Natal. Tentu saja, tak lepas dari kemeriahan berbelanja. Toko-toko menawarkan berbagai diskon dan paket-paket hadiah Natal. Yang justru di satu titik, entah kenapa membuat saya eneg dan rasanya jadi tak ingin berbelanja apapun. Inilah yang membuat saya ingin menulis tulisan kali ini, melihat kilas balik selama setahun belakangan.

Saya pun juga jadi lebih paham kenapa ada gerakan vegetarian. Kenapa situs-situs seperti Zen Habits atau Summer Tomato yang banyak menulis tentang pengendalian diri atau diet, diperlukan. Saya yang sempat terkagum-kagum pada banyaknya toko barang bekas di Sydney sperti Vinnies atau Salvos pun juga jadi berpikir ulang. Toko-toko itu ada, karena memang konsumsi yang begitu tinggi. Rutinitas membeli barang baru, perlu diimbangi tempat untuk menyalurkan barang lama.

Nah, hari ini masih malam Natal, 24 Desember. Kehebohan berbelaja di holiday season ini belumlah mencapai puncaknya. Tanggal 26 Desember nanti akan ada Boxing Day, hari di mana toko-toko memberikan diskon besar-besaran dan orang-orang akan rela antri dari pagi untuk barang incarannya. Saya penasaran, walau sejauh ini rasa ogah berbelanja belum hilang. Mungkin akan tidak tergoda, namun mungkin saja iya, mari kita lihat saja ;)

Salam dari Sydney, Selamat Natal dan Tahun Baru.

 

3 thoughts on “All I Want Need for Christmas

  1. Monika

    Hai, montok.
    Ngga papa lah kowe belanja, yang penting jangan lupa bwt beli oleh2 bwt kami hehehe.
    Btw, nek ono aku njaluk alat musik khas sana dong. Sing cilik2 wae :-D

    Reply
  2. Inu

    Tapi jangan lupa berbelanja untuk kami di sini ya Ni…:)
    Kalo yang itu sepertinya tidak konsumtif karena untuk dibagi lagi…:P:P:P

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>