Sebuah Paket Lengkap

Sejujurnya, saya dulu tidak ingin belajar ke Australia. Amerika dan Eropa sepertinya jauh lebih menarik dan keren (oops…). Selepas S1, saya sempat hampir berhasil berangkat ke Eropa karena lolos sebagai cadangan suatu beasiswa… hampir, hanya hampir saja. Selang sekitar dua tahun kemudian, kesempatan melanjutkan belajar akhirnya datang dari Australia. Belajar di Australia ternyata menjadi salah satu pengalaman hidup paling berharga yang pernah saya temui. Jadi, duhai Australia, maafkan aku kalau dulu sempat memandangmu sebelah mata.

Australia, terutama Sydney tempat saya tinggal sangat beragam dari segi budaya. Terlebih, kampus saya, University of New South Wales punya identitas global yang kental. Di sini saya bertemu dosen-dosen atau tutor yang berasal dari berbagai negara. Di Australia yang terpencil ini, ternyata saya bisa mencicipi belajar dengan rasa Amerika, Italia, atau Korea. Sungguh lucu, ini seperti menjawab keinginan sebelumnya untuk studi lanjut di Eropa atau Amerika.

Seorang teman saya dari Bali pernah berujar kalau lebih banyak bule di Bali daripada di Sydney. Ahaha… mungkin ada benarnya. Selain dosen, teman dan kenalan baru di sini pun berasal dari berbagai macam negara, tak hanya dari Australia. Sungguh menyenangkan berbagi cerita dengan mereka. Kadang juga harus sedikit hati-hati ketika bekerja bersama dalam tugas kelompok, setiap orang punya kebiasaan dan cara pandang yang berbeda. Harus hati-hati supaya komunikasi lancar dan tidak ada salah paham. Inilah yang membuat kuliah di Sydney semakin seru, bagaimana harus belajar menghadapi perbedaan.

Aceh Jogja dan Kupang... sangat akur :)

Perantau dan turis dari Aceh, Jogja, dan Kupang di Sydney Easter Show 2013… sangat akur :)

Saya juga bertemu teman-teman Indonesia yang sungguh-sungguh dari Sabang sampai Merauke. Aceh, Papua, Kupang, ataupun Kupang yang aslinya dari Timor Leste. Saya jadi mendengar kisah-kisah kelam dari era Orde Baru. Hal-hal yang tak pernah dibayangkan seorang gadis rumahan dari Jogja yang tak tahu apa-apa. Di sini juga  banyak teman-teman keturunan Tionghoa yang sangat bangga menjadi Indonesia. Sungguh ironis ketika di Indonesia mereka kurang dianggap Indonesia, disebut dengan “Cino”. Lalu, ketika beberapa waktu lalu ada berita dari Jogja tentang hubungan yang kurang baik antara warga Jogja asli dan pendatang dari daerah seperti NTT, well… mereka justru menjadi sahabat-sahabat terdekat saya di kota Sydney ini.

Tentu tak semuanya manis, kadang rasa sebal pun muncul. Saya pernah nyaris terbawa emosi di tengah satu kelas tentang keberlanjutan lingkungan. Diskusi di kelas terus-terusan membahas dikotomi third world vs first world dalam menghadapi isu lingkungan. Arah diskusi itu menuju ke kesimpulan bahwa negara berkembang sebagai penyebab utama menurunnya kondisi lingkungan di dunia. Negara berkembang seolah-olah bodoh dan tertinggal sehingga perlu diedukasi. Ah, padahal siapa sih yang tingkat konsumsinya begitu tinggi dan membuat negara berkembang menjadi mengorbankan hutannya? Membaca koran Australia juga kadang bisa membuat saya sebal kalau ada pandangan yang meremehkan tentang Indonesia. Yah… paling tidak saya jadi sadar tentang adanya pandangan-pandangan tersebut dan kenapa itu bisa muncul (wah… ini bisa menjadi satu tulisan tersendiri)

Nah, satu hal lain yang cukup menggugah buat saya adalah seminggu yang lalu saya mengikuti konferensi ICOC di Hobart, Tasmania. Mungkin karena kedekatan secara lokasi, cukup banyak Indonesianis yang berasal dari Australia. Mereka yang peduli akan Indonesia berkumpul di pulau kecil di ujung Australia, sungguh sebuah lokasi yang aneh untuk membahas Indonesia. Walau, kalau menurut banyak paparan di konferensi tersebut,  Australia masih punya tingkat ignorance yang tinggi terhadap Indonesia. Ini cukup ironis sebagai tetangga dekat, seperti yang juga kadang tergambarkan dari tulisan-tulisan di media di sini (baiklah… ini sungguh potensial untuk bisa jadi satu tulisan lain). Bagaimanapun, tema-tema yang dibahas di konferensi itu mengingatkan dan meng-update saya tentang isu-isu di Indonesia. Di tengah-tengah bergelut menghadapi tugas dan ujian di kampus, saya terkadang melewatkan kabar terbaru dari tanah air. Ini menjadi penutup yang manis untuk perjalanan saya di Australia ini, seperti sebuah ajang refleksi, persiapan sebelum back for good ke Indonesia.

Jadi, terima kasih Australia. Kamu seperti sebuah paket lengkap, cara saya untuk dapat sedikit lebih memahami dunia… Indonesia, dan mungkin juga diri sendiri. Tak sabar untuk kembali pulang walau ada sedikit sedih untuk harus segera pergi dari negara ini bercampur perasaan gugup. Yang pasti, ini seperti mimpi yang harus segera berakhir… bangunlah!

6 thoughts on “Sebuah Paket Lengkap

  1. Vica

    Refleksi yang bagus banget, Nini.. Suka sekali. Ayo kita bangun dari mimpi dan mulai bergerak melakukan sesuatu bagi negara kita tercinta ;)

    Reply
    1. Nini Purwajati Post author

      Terima kasih Vica (oiya credit poto itu dari kameramu, maaf lupa :D ). Mari berkarya buat tanah air :)

      Reply
  2. jerk_ot

    hhahahaha welcome back then….

    gak perduli dimanapun, harus tetap semangat berkarya… enjoy jogja… :D

    Reply

Leave a Reply to jerk_ot Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>