Category Archives: Ide

Menempel di Kepala

Selama 2015, saya tak menayangkan satu tulisan pun di blog ini. Ah, jadi ingin sedikit melakukan kilas balik.

Saya ngeblog sejak awal 2000an, walaupun tak selalu teratur dan beberapa layanan tempat saya menumpang sudah lenyap. Mungkin bangkrut? Seperti laman lama saya di confuzzled.blogsome.com, padahal di situ saya cukup produktif.  Ada juga blog yang masih selamat, curhatan kala SMA nan alay (oops, alamatnya rahasia ;>). Ada cerita tentang saya yang bersedih karena kehilangan  lima ribu perak (saja), luar biasa banyaknya saat itu.  Ataupun, cerita tentang saya yang baru saja menonton Meteor Rain dan A Walk to Remember (Oh F4 dan Mandy Moore, apa kabar kalian sekarang?). 

Apakah blog kini masih relevan? Pesatnya perkembangan media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram membuat godaan untuk posting apapun. Secepat mungkin, singkat saja, mendapatkan like dan balasan sebanyak-banyaknya.

Sering namun tak dalam. Serba instan.

Begitu banyak informasi, lewat dan berlalu. Tak sempat diresapi dan dipahami sepenuhnya.

Jadi saya ingin kembali menulis lagi. Menulis tulisan yang tak hanya dibatasi oleh 144 karakter, lewat, dan lalu lenyap di tengah berjuta-juta kicauan lainnya. Lagipula, ada banyak manfaat menulis. Kata salah satu blogger favorit saya, menulis membantu pikiran tetap tajam, mencerminkan perubahan yang kita alami, ataupun memancing kita untuk memunculkan ide-ide baru. Saya amini. Walau sudah bertahun-tahun berlalu, hal yang pernah saya tuliskan dulu memang relatif lebih menempel di kepala.

Baiklah, kita lihat saja bagaimana janji dan niat ini akan dipenuhi.

NB: Jika ada waktu luang, rasanya ingin menyelamatkan catatan lawas melalui The Wayback Machine. Silakan dicoba, jika perlu!

 

 

Rupiah, Saham, dan Properti

Rupiah dan saham di Indonesia sedang jeblok, akankah ada dampaknya terhadap properti? Ah… harga properti kan naik terus, jadi properti adalah investasi yang aman? Itu lho, seperti iklan-iklan yang banyak ditemui di koran dan televisi.

Nah, kemarin kompas.com menurunkan berita berjudul “Fluktuasi Rupiah Belum Goyang Sektor Properti”. Dalam berita itu disebutkan, kondisi buruk rupiah tidak akan mempengaruhi properti secara langsung, kecuali jika pelemahan ini berlangsung secara jangka panjang.

“Bila hal itu terjadi, sektor yang paling rentan terkena dampaknya adalah ruang komersial ritel atau pusat belanja, kawasan industri dan perkantoran. Menguatnya Dollar dalam jangka waktu lama akan berdampak pada penurunan permintaan sebagai akibat dari lonjakan harga sewa dan turunnya tingkat hunian,” Hendra, Leads Property (Kompas, 20 Agustus 2013)

Kenapa itu bisa terjadi? Saya akan coba menjawabnya.
1. Properti tidak liquid/cair, berbeda dengan saham. Transaksi saham berlangsung setiap hari dan harganya juga bergerak setiap hari. Beda dengan properti, kita tidak bisa menjual properti  dengan cepat. Ngomong-ngomong, properti yang tidak bisa dijual dengan cepat ini adalah salah satu kelemahan berinvestasi di sektor properti.


2. Sedikit kabar buruk pada suatu perusahaan, harga sahamnya bisa langsung turun drastis. Sementara itu reaksi pasar properti tidak bisa langsung. Properti terkait dengan proses konstruksi, bangunan itu sendiri, proses jual-beli/sewa yang berlapis, pengguna ruang, dan masih banyak lagi. Mari kita ambil contoh:
- Kondisi ekonomi memburuk memaksa perusahaan-perusahaan melakukan PHK dan menghentikan sewa ruang kantor. Namun itu tidak terjadi tiba-tiba esok hari, butuh waktu. Penurunan permintaan di sektor properti ketika ekonomi melemah juga terjadi, namun mungkin baru akan berlangsung beberapa bulan kemudian.
- Begitu juga sebaliknya, saat ekonomi tumbuh pesat, pusat perbelanjaan dan kantor-kantor akan melakukan ekspansi. Kemungkinan besar, mereka akan memerlukan ruang atau bangunan tambahan. Tentu saja, membangun gedung baru butuh waktu.

Yang paling celaka adalah misal mall baru dibangun di suatu kota dan ketika mall itu selesai dan siap beroperasi, ekonomi sudah melambat dan kios-kios pun kosong tak laku. Celaka makin berlipat kalau dollar terus menguat dan bangunan tersebut dibangun dengan hutang dari luar negeri. Seperti kata seorang teman saya, hal ini bisa menyebabkan gagal bayar dan bangunan tak selesai. Saya paling sedih kalo menemukan bangunan besar yang kosong dan mangkrak. Mengutip salah satu dosen saya di UGM, ini adalah sebuah pemborosan tata ruang.

Untuk lebih jelasnya bisa dilihat di grafik berikut. Mohon maaf saya pakai data dari Australia. Saya justru tak punya data tentang Indonesia, jelas bahwa saya masih harus belajar lagi. Garis hijau/S&P/ASX 200 mewakili saham di Australia dan garis merah/Direct Property mewakili indeks properti. Garis merah vertikal merah menunjukkan ketika ekonomi sedang mencapai puncak, reaksi sektor properti lebih lambat beberapa waktu (lihat titik merah). Begitu pula saat krisis ekonomi 2008 di Australia (lihat garis vertikal jingga). Ketika saham sudah jeblok, sektor properti baru menyusul beberapa bulan kemudian (lihat titik jingga).

Grafik Total Return Properti di Australia (Sumber: IPD Australia dalam Property Council Australia Leading Indicator April 2012)

Grafik Total Return Properti di Australia (Sumber: IPD Australia dalam Property Council Australia Leading Indicator April 2012)
Ket: Total return terdiri dari capitalisation return (misal:harga properti setelah n-tahun) dan income return (misal:pemasukan sewa)

Kembali ke paragraf awal tentang harga properti naik terus. Kalau dari grafik di atas, apakah harga properti naik terus? Hmm… jawabannya tidak. Yang pasti, dari grafik tersebut, sektor properti memang lebih stabil dibanding pergerakan saham yang bisa sangat jeblok namun juga sangat tinggi. Namun bukan berarti sektor properti aman sepenuhnya dari kondisi ekonomi yang memburuk. Tapi itu data Australia, kalau Indonesia? Nanti saya tulis di tulisan terpisah ya, jangan lupa tagih saya (alasan ding… padahal masih harus belajar dan mengumpulkan data lagi, hehehe)

Sebuah Paket Lengkap

Sejujurnya, saya dulu tidak ingin belajar ke Australia. Amerika dan Eropa sepertinya jauh lebih menarik dan keren (oops…). Selepas S1, saya sempat hampir berhasil berangkat ke Eropa karena lolos sebagai cadangan suatu beasiswa… hampir, hanya hampir saja. Selang sekitar dua tahun kemudian, kesempatan melanjutkan belajar akhirnya datang dari Australia. Belajar di Australia ternyata menjadi salah satu pengalaman hidup paling berharga yang pernah saya temui. Jadi, duhai Australia, maafkan aku kalau dulu sempat memandangmu sebelah mata.

Australia, terutama Sydney tempat saya tinggal sangat beragam dari segi budaya. Terlebih, kampus saya, University of New South Wales punya identitas global yang kental. Di sini saya bertemu dosen-dosen atau tutor yang berasal dari berbagai negara. Di Australia yang terpencil ini, ternyata saya bisa mencicipi belajar dengan rasa Amerika, Italia, atau Korea. Sungguh lucu, ini seperti menjawab keinginan sebelumnya untuk studi lanjut di Eropa atau Amerika.

Seorang teman saya dari Bali pernah berujar kalau lebih banyak bule di Bali daripada di Sydney. Ahaha… mungkin ada benarnya. Selain dosen, teman dan kenalan baru di sini pun berasal dari berbagai macam negara, tak hanya dari Australia. Sungguh menyenangkan berbagi cerita dengan mereka. Kadang juga harus sedikit hati-hati ketika bekerja bersama dalam tugas kelompok, setiap orang punya kebiasaan dan cara pandang yang berbeda. Harus hati-hati supaya komunikasi lancar dan tidak ada salah paham. Inilah yang membuat kuliah di Sydney semakin seru, bagaimana harus belajar menghadapi perbedaan.

Aceh Jogja dan Kupang... sangat akur :)

Perantau dan turis dari Aceh, Jogja, dan Kupang di Sydney Easter Show 2013… sangat akur :)

Saya juga bertemu teman-teman Indonesia yang sungguh-sungguh dari Sabang sampai Merauke. Aceh, Papua, Kupang, ataupun Kupang yang aslinya dari Timor Leste. Saya jadi mendengar kisah-kisah kelam dari era Orde Baru. Hal-hal yang tak pernah dibayangkan seorang gadis rumahan dari Jogja yang tak tahu apa-apa. Di sini juga  banyak teman-teman keturunan Tionghoa yang sangat bangga menjadi Indonesia. Sungguh ironis ketika di Indonesia mereka kurang dianggap Indonesia, disebut dengan “Cino”. Lalu, ketika beberapa waktu lalu ada berita dari Jogja tentang hubungan yang kurang baik antara warga Jogja asli dan pendatang dari daerah seperti NTT, well… mereka justru menjadi sahabat-sahabat terdekat saya di kota Sydney ini. Continue reading

Taken for Granted

Minggu lalu saya menonton tiga film di Sydney Film Festival. The Act of Killing alias Jagal, Cities on Speed:Bogota Change dan Before Midnight. Cuplikan trailer dan komentar singkat akan film-film tersebut ada di akhir tulisan ini.

Menonton film-film tersebut membuat saya merenung. Ada banyak hal yang saya bisa nikmati secara “taken for granted” selama saya tinggal di Sydney ini. Hal-hal yang mungkin akan susah saya akses sekembalinya saya ke Indonesia nanti. Continue reading

Aku Bisa Beruang dengan Itu

Bukan, judulnya bukan ini, tulisan kali ini kalau harus ditulis dalam bahasa Inggris kira-kira akan berjudul “I Can Bear with That”. Do you get it? :D Hmm… jadi apa yang mau saya ceritakan kali ini?

Sudah dua bulan lebih saya tinggal di kota Sydney dan saya masih saja kegirangan dengan segala fasilitas publiknya. Bus kota, kereta, dan juga kapal feri. Hanya monorail yang belum pernah saya naiki (sedikit cerita tentang ini… nanti di belakang). Semuanya menurut saya bisa diandalkan dan sangat bermanfaat untuk menjelajah ke segala penjuru kota Sydney.

Nah… tak disangka. Ternyata teman-teman saya yang orang Australia asli suka mengeluhkan fasilitas publik di sini. Buat mereka, transportasi publik di sini kurang bisa diandalkan. Sebagai contoh, bus kota terkadang telat beberapa menit dan untuk kereta terkadang ada perbaikan jaringan sehingga tak semua jalur beroperasi (walau akan disediakan bus pengganti). Lalu, ada teman-teman kuliah saya yang  berasal dari Singapura dan Shanghai pun sering mengutarakan kalau mereka rindu transportasi publik di tempat asal mereka. Sayang, saya belum pernah pergi ke Singapura, tak bisa membuat perbandingan, tapi memang, Mass Rapid Transit (MRT) Singapura sering sekali dipuji-puji.

Cerita lain adalah, di salah satu mata kuliah yang saya ikuti, kelas kami mengadakan kunjungan lapangan ke salah satu lokasi perumahan yang harganya terjangkau (affordable housing) di daerah Zetland, Sydney. Padanannya di Indonesia barangkali adalah rumah susun sederhana milik (rusunami). Dosen dan teman-teman saya lagi-lagi bilang, lokasi dan kondisinya kurang bagus, di pinggir jalan tol dan terlalu bising, kurang layak, dan kurang manusiawi. Saya memang tak sungguh masuk ke dalam affordable housing tersebut, hanya melihat dari luar, namun saya sudah terkagum-kagum dengan bangunannya yang tampak bersih dan rapi. Di mata kuliah yang lain lagi, sang dosen menunjukkan satu kawasan kumuh/slum di tahun 50-60an. Saya hanya bisa bengong, seperti itu dibilang slum? Buat saya, itu hanyalah bangunan bagus yang agak dekil dan kurang terawat.

Contoh affordable housing di Zetland, Sydney

Apa mereka yang kurang bersyukur? Atau saya yang terlalu nrimo dan standarnya kerendahan? Atau kita memang sungguh tertinggal? Atau mungkin kitalah yang begitu hebat karena bisa bertahan dengan kondisi apa saja? Sebagai pengguna setia bus Kopaja jalur 19 di Jakarta yang hanya Tuhan dan sopir yang tahu apakah trayeknya akan habis di Blok M atau terus ke Cilandak, semua yang saya temui di sini rasanya sudah sangat lebih dari cukup. I can bear with that. Totally.

Di sisi lain, bisa jadi kabar baiknya adalah, dengan logika bodoh saya, fasilitas publik di Indonesia mungkin tak butuh perbaikan atau reformasi yang drastis. Kalau dengan layanan-layanan yang ada selama ini, manusia Indonesia bisa bertahan, barangkali sedikit perbaikan saja sudah cukup? Ini tentu tawaran yang sungguh ngga mutu dari mahasiswa yang belajar perencanaan kota.Tapi siapa tahu? Coba dimulai dari sedikit perbaikan dan perubahan saja. Asalkan mau (karena saya yakin ini jelas bisa dilakukan). Misal, untuk Jakarta, mungkin tak perlu semua bus kota diganti dengan busway dan MRT. Kalau misal Kopaja dan Metromini sedikit dibersihkan dan dirapikan lalu jadwalnya ditertibkan dengan tak boleh mengganti trayek seenak udel? Hm… barangkali?

Oh iya, tentang monorail di Sydney, monorail di sini ternyata dianggap kurang efektif. Monorail Sydney dikelola oleh pihak swasta dan tidak benar-bernat terintegrasi dengan moda transportasi lainnya seperti bus kota dan kereta.  Monorail di sini dianggap tidak benar-benar mengatasi kemacetan Sydney (yang lagi-lagi buat saya, hah, ini dibilang macet?). Jadi, monorail ini akan dihapus. Kota lain seperti Hobart di Tasmania kabarnya tertarik untuk mendaur ulang kereta monorail Sydney. Mungkin Jakarta juga bisa ikutan menawar? Jakarta kan sudah punya tiangnya.