Category Archives: Peristiwa

Parkir Bawah Tanah

Jakarta selalu membuat saya takjub, ada macam-macam hal yang bisa ditemui. Contohnya saja kawasan SCBD (Senayan Central Business District) yang tak punya kabel malang-melintang di atasnya, utilitas ditanam di bawah tanah. SCBD sangat rapi, modern dengan gedung-gedung jangkung. Terkadang, saya merasa kehilangan orientasi sejenak jika sedang di SCBD. Bertanya-tanya, di manakah aku berada? Singapura? Nah, tapi saya kaget menemukan terowongan underpass yang berfungsi sebagai tempat parkir sepeda motor.  Kebetulan, gedung yang saya kunjungi ternyata tak punya tempat parkir sepeda motor. Perencanaan yang meleset? Atau implementasi yang kreatif? Hehehe, yang pasti, ini bukti bahwa SCBD tetap setia memanfaatkan bawah tanah yang sebenar-benarnya…

Terowongan underpass di kawasan SCBD yang dipakai untuk tempat parkir sepeda motor

Terowongan underpass di kawasan SCBD yang dipakai untuk tempat parkir sepeda motor

Taken for Granted

Minggu lalu saya menonton tiga film di Sydney Film Festival. The Act of Killing alias Jagal, Cities on Speed:Bogota Change dan Before Midnight. Cuplikan trailer dan komentar singkat akan film-film tersebut ada di akhir tulisan ini.

Menonton film-film tersebut membuat saya merenung. Ada banyak hal yang saya bisa nikmati secara “taken for granted” selama saya tinggal di Sydney ini. Hal-hal yang mungkin akan susah saya akses sekembalinya saya ke Indonesia nanti. Continue reading

Aku Bisa Beruang dengan Itu

Bukan, judulnya bukan ini, tulisan kali ini kalau harus ditulis dalam bahasa Inggris kira-kira akan berjudul “I Can Bear with That”. Do you get it? :D Hmm… jadi apa yang mau saya ceritakan kali ini?

Sudah dua bulan lebih saya tinggal di kota Sydney dan saya masih saja kegirangan dengan segala fasilitas publiknya. Bus kota, kereta, dan juga kapal feri. Hanya monorail yang belum pernah saya naiki (sedikit cerita tentang ini… nanti di belakang). Semuanya menurut saya bisa diandalkan dan sangat bermanfaat untuk menjelajah ke segala penjuru kota Sydney.

Nah… tak disangka. Ternyata teman-teman saya yang orang Australia asli suka mengeluhkan fasilitas publik di sini. Buat mereka, transportasi publik di sini kurang bisa diandalkan. Sebagai contoh, bus kota terkadang telat beberapa menit dan untuk kereta terkadang ada perbaikan jaringan sehingga tak semua jalur beroperasi (walau akan disediakan bus pengganti). Lalu, ada teman-teman kuliah saya yang  berasal dari Singapura dan Shanghai pun sering mengutarakan kalau mereka rindu transportasi publik di tempat asal mereka. Sayang, saya belum pernah pergi ke Singapura, tak bisa membuat perbandingan, tapi memang, Mass Rapid Transit (MRT) Singapura sering sekali dipuji-puji.

Cerita lain adalah, di salah satu mata kuliah yang saya ikuti, kelas kami mengadakan kunjungan lapangan ke salah satu lokasi perumahan yang harganya terjangkau (affordable housing) di daerah Zetland, Sydney. Padanannya di Indonesia barangkali adalah rumah susun sederhana milik (rusunami). Dosen dan teman-teman saya lagi-lagi bilang, lokasi dan kondisinya kurang bagus, di pinggir jalan tol dan terlalu bising, kurang layak, dan kurang manusiawi. Saya memang tak sungguh masuk ke dalam affordable housing tersebut, hanya melihat dari luar, namun saya sudah terkagum-kagum dengan bangunannya yang tampak bersih dan rapi. Di mata kuliah yang lain lagi, sang dosen menunjukkan satu kawasan kumuh/slum di tahun 50-60an. Saya hanya bisa bengong, seperti itu dibilang slum? Buat saya, itu hanyalah bangunan bagus yang agak dekil dan kurang terawat.

Contoh affordable housing di Zetland, Sydney

Apa mereka yang kurang bersyukur? Atau saya yang terlalu nrimo dan standarnya kerendahan? Atau kita memang sungguh tertinggal? Atau mungkin kitalah yang begitu hebat karena bisa bertahan dengan kondisi apa saja? Sebagai pengguna setia bus Kopaja jalur 19 di Jakarta yang hanya Tuhan dan sopir yang tahu apakah trayeknya akan habis di Blok M atau terus ke Cilandak, semua yang saya temui di sini rasanya sudah sangat lebih dari cukup. I can bear with that. Totally.

Di sisi lain, bisa jadi kabar baiknya adalah, dengan logika bodoh saya, fasilitas publik di Indonesia mungkin tak butuh perbaikan atau reformasi yang drastis. Kalau dengan layanan-layanan yang ada selama ini, manusia Indonesia bisa bertahan, barangkali sedikit perbaikan saja sudah cukup? Ini tentu tawaran yang sungguh ngga mutu dari mahasiswa yang belajar perencanaan kota.Tapi siapa tahu? Coba dimulai dari sedikit perbaikan dan perubahan saja. Asalkan mau (karena saya yakin ini jelas bisa dilakukan). Misal, untuk Jakarta, mungkin tak perlu semua bus kota diganti dengan busway dan MRT. Kalau misal Kopaja dan Metromini sedikit dibersihkan dan dirapikan lalu jadwalnya ditertibkan dengan tak boleh mengganti trayek seenak udel? Hm… barangkali?

Oh iya, tentang monorail di Sydney, monorail di sini ternyata dianggap kurang efektif. Monorail Sydney dikelola oleh pihak swasta dan tidak benar-bernat terintegrasi dengan moda transportasi lainnya seperti bus kota dan kereta.  Monorail di sini dianggap tidak benar-benar mengatasi kemacetan Sydney (yang lagi-lagi buat saya, hah, ini dibilang macet?). Jadi, monorail ini akan dihapus. Kota lain seperti Hobart di Tasmania kabarnya tertarik untuk mendaur ulang kereta monorail Sydney. Mungkin Jakarta juga bisa ikutan menawar? Jakarta kan sudah punya tiangnya.

 

(Ojo) Gumunan

Ojo gumunan atau jangan mudah kagum mungkin adalah salah satu istilah Jawa yang sering terdengar. Namun, sayangnya (atau untungnya?), pedoman itu tak bisa saya terapkan ketika akhirnya terdampar di satu negeri baru di bawah sana. Sudah sekitar seminggu ini saya tinggal di kota Sydney, Australia. Kota ini menjadi tempat tinggal saya selama sekitar 1,5 tahun karena di kota ini saya akan menempuh studi lanjut. Selain ini adalah tempat baru, ini adalah kali pertama saya pergi jauh, deg deg deg… Tak pernah sebelumnya saya pergi jauh melebih meloncat ke pulau Bali.

Belum banyak yang saya kunjungi di kota ini, namun apa yang sudah ditemui membuat saya belum berhenti juga untuk berdecak kagum. Saya harus berjalan kaki ke mana saja padahal saya tinggal di kawasan suburbia yang medannya lumayan berbukit. Untungnya, walau sedang musim panas, cuaca di sini tidak lembab sehingga tak harus bercucuran keringat, tapi memang kadang angin bertiup cukup kencang. Universitas saya pun terletak di kawasan yang cukup berbukit tersebut, sangat indah namun jumlah tangganya luar biasa banyak! Tapi tentunya itu semua terbayar melihat begitu banyaknya referensi yang ada, pengalaman dan pelajaran yang akan didapat, serta teman-teman baru dari berbagai engara.

Ketika saya pergi ke pusat kota Sydney, hati sedikit berdesir ketika akhirnya melihat Opera House dan Harbour Bridge yang sebenarnya, goosebump! Lalu sekilas melihat monorail dengan tiang langsing menyelip di antara bangunan-bangunan tinggi di atas jalanan yang tak begitu lebar, membuat saya jadi terngiang pada tiang-tiang monorail yang terbengkalai di sepanjang Kuningan di Jakarta. Taman-taman di sini luar biasa, begitu pula sarana transportasinya. Selain itu, saya pun suka melihat gaya pakaian Sydneysiders, gaya! Walau kadang (eh sering mungkin), pakaian mereka sungguh irit di tengah Sydney yang sangat berangin. Nah, jadi penasaran berapa banyak stok tolak angin yang harus mereka punya :D

Entah sampai kapan saya masih akan terkagum-kagum. Semoga di sini saya memang akan banyak belajar dan tak lupa untuk berbagi cerita lainnya.

 

Salam hangat (plus anginnya) dari Sydney!

Wajar Tak Wajar

Kemarin, saya naik sebuah Metromini no 47 untuk pergi ke rumah saudara saya di daerah Jakarta Timur. Belum sampai tujuan, kenek menyuruh turun untuk pindah ke bus di belakangnya. Oper, demikian istilahnya. Aneh juga, padahal bus cukup penuh dan jalur ini juga masih cukup ramai. Setelah aba-aba sang kenek tersebut, sontak, para penumpang pun kemudian bergegas untuk turun. Kecuali satu ibu. Sang Ibu tersebut menolak turun sambil terus mengomel. Dan ia juga meminta penumpang lain untuk jangan mau berganti bus. “Kok mau sih yang lain pada turun,” begitu katanya. Dia berujar kalau penumpang tak mau turun, bus ini pasti akan terus jalan.

Para penumpang lain yang turun melihat ke arah sang Ibu dengan pandangan seolah-olah bahwa Ibu itu terlalu menuntut. Kalau ada yang berani berkomentar mungkin kata-kata “Terima saja, Bu” akan meluncur. Saya pun awalnya berpikir demikian. Walau setelah dipikir-pikir, betul juga sebenarnya apa kata Ibu tersebut. Ibu tukang protes ini justru tak salah. Ia menuntut haknya. Dan kita sebagai konsumen sebenarnya bisa memilih untuk tidak pasrah, menolak untuk diperlakukan seenaknya.

Aneh, Ibu yang sebenarnya sangat wajar untuk meminta haknya, malah menjadi tampak tak wajar. Dan kita memang sudah menjelma menjadi terlalu sabar dan nrimo? Padahal kita punya pilihan. Kalau bisa dan kalau mau.