<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Selepas Kemarin</title>
	<atom:link href="http://selepas.kemar.in/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://selepas.kemar.in</link>
	<description>Lusia Nini Purwajati</description>
	<lastBuildDate>Fri, 20 Apr 2012 05:53:41 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Aku Bisa Beruang dengan Itu</title>
		<link>http://selepas.kemar.in/2012/04/aku-bisa-beruang-dengan-itu/</link>
		<comments>http://selepas.kemar.in/2012/04/aku-bisa-beruang-dengan-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Apr 2012 14:16:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nini Purwajati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ide]]></category>
		<category><![CDATA[Peristiwa]]></category>
		<category><![CDATA[perumahan]]></category>
		<category><![CDATA[Sydney]]></category>
		<category><![CDATA[transportasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://selepas.kemar.in/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Bukan, judulnya bukan ini, tulisan kali ini kalau harus ditulis dalam bahasa Inggris kira-kira akan berjudul “I Can Bear with That”. Do you get it? Hmm&#8230; jadi apa yang mau saya ceritakan kali ini? Sudah dua bulan lebih saya tinggal &#8230; <a href="http://selepas.kemar.in/2012/04/aku-bisa-beruang-dengan-itu/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bukan, judulnya bukan ini, tulisan kali ini kalau harus ditulis dalam bahasa Inggris kira-kira akan berjudul “I Can Bear with That”. <em>Do you get it?</em> <img src='http://selepas.kemar.in/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  Hmm&#8230; jadi apa yang mau saya ceritakan kali ini?</p>
<p>Sudah dua bulan lebih saya tinggal di kota Sydney dan saya masih saja kegirangan dengan segala fasilitas publiknya. Bus kota, kereta, dan juga kapal feri. Hanya monorail yang belum pernah saya naiki (sedikit cerita tentang ini&#8230; nanti di belakang). Semuanya menurut saya bisa diandalkan dan sangat bermanfaat untuk menjelajah ke segala penjuru kota Sydney.</p>
<p>Nah&#8230; tak disangka. Ternyata teman-teman saya yang orang Australia asli suka mengeluhkan fasilitas publik di sini. Buat mereka, transportasi publik di sini kurang bisa diandalkan. Sebagai contoh, bus kota terkadang telat beberapa menit dan untuk kereta terkadang ada perbaikan jaringan sehingga tak semua jalur beroperasi (walau akan disediakan bus pengganti). Lalu, ada teman-teman kuliah saya yang  berasal dari Singapura dan Shanghai pun sering mengutarakan kalau mereka rindu transportasi publik di tempat asal mereka. Sayang, saya belum pernah pergi ke Singapura, tak bisa membuat perbandingan, tapi memang, <em>Mass Rapid Transit</em> (MRT) Singapura sering sekali dipuji-puji.</p>
<p>Cerita lain adalah, di salah satu mata kuliah yang saya ikuti, kelas kami mengadakan kunjungan lapangan ke salah satu lokasi perumahan yang harganya terjangkau (<em>affordable housing</em>) di daerah Zetland, Sydney. Padanannya di Indonesia barangkali adalah rumah susun sederhana milik (rusunami). Dosen dan teman-teman saya lagi-lagi bilang, lokasi dan kondisinya kurang bagus, di pinggir jalan tol dan terlalu bising, kurang layak, dan kurang manusiawi. Saya memang tak sungguh masuk ke dalam <em>affordable housing </em>tersebut, hanya melihat dari luar, namun saya sudah terkagum-kagum dengan bangunannya yang tampak bersih dan rapi. Di mata kuliah yang lain lagi, sang dosen menunjukkan satu kawasan kumuh/<em>slum</em> di tahun 50-60an. Saya hanya bisa bengong, seperti itu dibilang<em> slum</em>? Buat saya, itu hanyalah bangunan bagus yang agak dekil dan kurang terawat.</p>
<div id="attachment_53" class="wp-caption alignleft" style="width: 235px"><a href="http://selepas.kemar.in/wp-content/uploads/2012/04/Green-Square-Affordable-Housing.jpg"><img class="size-medium wp-image-53" title="Green Square Affordable Housing" src="http://selepas.kemar.in/wp-content/uploads/2012/04/Green-Square-Affordable-Housing-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Contoh affordable housing di Zetland, Sydney</p></div>
<p>Apa mereka yang kurang bersyukur? Atau saya yang terlalu <em>nrimo</em> dan standarnya kerendahan? Atau kita memang sungguh tertinggal? Atau mungkin kitalah yang begitu hebat karena bisa bertahan dengan kondisi apa saja? Sebagai pengguna setia bus Kopaja jalur 19 di Jakarta yang hanya Tuhan dan sopir yang tahu apakah trayeknya akan habis di Blok M atau terus ke Cilandak, semua yang saya temui di sini rasanya sudah sangat lebih dari cukup. <em>I can bear with that</em>. <em>Totally</em>.</p>
<p>Di sisi lain, bisa jadi kabar baiknya adalah, dengan logika bodoh saya, fasilitas publik di Indonesia mungkin tak butuh perbaikan atau reformasi yang drastis. Kalau dengan layanan-layanan yang ada selama ini, manusia Indonesia bisa bertahan, barangkali sedikit perbaikan saja sudah cukup? Ini tentu tawaran yang sungguh ngga mutu dari mahasiswa yang belajar perencanaan kota.Tapi siapa tahu? Coba dimulai dari sedikit perbaikan dan perubahan saja. Asalkan mau (karena saya yakin ini jelas bisa dilakukan). Misal, untuk Jakarta, mungkin tak perlu semua bus kota diganti dengan busway dan MRT. Kalau misal Kopaja dan Metromini sedikit dibersihkan dan dirapikan lalu jadwalnya ditertibkan dengan tak boleh mengganti trayek seenak udel? Hm&#8230; barangkali?</p>
<p>Oh iya, tentang monorail di Sydney, monorail di sini ternyata dianggap kurang efektif. Monorail Sydney dikelola oleh pihak swasta dan tidak benar-bernat terintegrasi dengan moda transportasi lainnya seperti bus kota dan kereta.  Monorail di sini dianggap tidak benar-benar mengatasi kemacetan Sydney (yang lagi-lagi buat saya, hah, ini dibilang macet?). Jadi, monorail ini akan dihapus. Kota lain seperti Hobart di Tasmania kabarnya tertarik untuk mendaur ulang kereta monorail Sydney. Mungkin Jakarta juga bisa ikutan menawar? Jakarta kan sudah punya tiangnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://selepas.kemar.in/2012/04/aku-bisa-beruang-dengan-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>(Ojo) Gumunan</title>
		<link>http://selepas.kemar.in/2012/01/ojo-gumunan/</link>
		<comments>http://selepas.kemar.in/2012/01/ojo-gumunan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jan 2012 11:49:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nini Purwajati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Peristiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Australia]]></category>
		<category><![CDATA[Sydney]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://selepas.kemar.in/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[Ojo gumunan atau jangan mudah kagum mungkin adalah salah satu istilah Jawa yang sering terdengar. Namun, sayangnya (atau untungnya?), pedoman itu tak bisa saya terapkan ketika akhirnya terdampar di satu negeri baru di bawah sana. Sudah sekitar seminggu ini saya &#8230; <a href="http://selepas.kemar.in/2012/01/ojo-gumunan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Ojo gumunan</em> atau jangan mudah kagum mungkin adalah salah satu istilah Jawa yang sering terdengar. Namun, sayangnya (atau untungnya?), pedoman itu tak bisa saya terapkan ketika akhirnya terdampar di satu negeri baru di bawah sana. Sudah sekitar seminggu ini saya tinggal di kota Sydney, Australia. Kota ini menjadi tempat tinggal saya selama sekitar 1,5 tahun karena di kota ini saya akan menempuh studi lanjut. Selain ini adalah tempat baru, ini adalah kali pertama saya pergi jauh, deg deg deg&#8230; Tak pernah sebelumnya saya pergi jauh melebih meloncat ke pulau Bali.</p>
<p>Belum banyak yang saya kunjungi di kota ini, namun apa yang sudah ditemui membuat saya belum berhenti juga untuk berdecak kagum. Saya harus berjalan kaki ke mana saja padahal saya tinggal di kawasan suburbia yang medannya lumayan berbukit. Untungnya, walau sedang musim panas, cuaca di sini tidak lembab sehingga tak harus bercucuran keringat, tapi memang kadang angin bertiup cukup kencang. Universitas saya pun terletak di kawasan yang cukup berbukit tersebut, sangat indah namun jumlah tangganya luar biasa banyak! Tapi tentunya itu semua terbayar melihat begitu banyaknya referensi yang ada, pengalaman dan pelajaran yang akan didapat, serta teman-teman baru dari berbagai engara.</p>
<p>Ketika saya pergi ke pusat kota Sydney, hati sedikit berdesir ketika akhirnya melihat Opera House dan Harbour Bridge yang sebenarnya, <em>goosebump</em>! Lalu sekilas melihat monorail dengan tiang langsing menyelip di antara bangunan-bangunan tinggi di atas jalanan yang tak begitu lebar, membuat saya jadi terngiang pada tiang-tiang monorail yang terbengkalai di sepanjang Kuningan di Jakarta. Taman-taman di sini luar biasa, begitu pula sarana transportasinya. Selain itu, saya pun suka melihat gaya pakaian <em>Sydneysiders</em>, gaya! Walau kadang (eh sering mungkin), pakaian mereka sungguh irit di tengah Sydney yang sangat berangin. Nah, jadi penasaran berapa banyak stok tolak angin yang harus mereka punya <img src='http://selepas.kemar.in/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Entah sampai kapan saya masih akan terkagum-kagum. Semoga di sini saya memang akan banyak belajar dan tak lupa untuk berbagi cerita lainnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Salam hangat (plus anginnya) dari Sydney!</p>
<p><a href="http://selepas.kemar.in/wp-content/uploads/2012/01/20-Goosebump-in-Opera.jpg"><img title="Hello from Sydney!" src="http://selepas.kemar.in/wp-content/uploads/2012/01/20-Goosebump-in-Opera-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://selepas.kemar.in/2012/01/ojo-gumunan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bahasa Menunjukkan Bangsa?</title>
		<link>http://selepas.kemar.in/2012/01/bahasa-menunjukkan-bangsa/</link>
		<comments>http://selepas.kemar.in/2012/01/bahasa-menunjukkan-bangsa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jan 2012 15:49:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nini Purwajati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ide]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[DELF]]></category>
		<category><![CDATA[IELTS]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Inggris]]></category>
		<category><![CDATA[TOEFL]]></category>
		<category><![CDATA[ujian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://selepas.kemar.in/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[Lini masa di wadah media sosial twitter beberapa hari ini (sebelum ada kasus kamseupay) sedang ramai dengan berita Gita Wirjawan yang meminta pegawainya untuk punya nilai TOEFL 600 (Link terkait di sini, sini, dan sini). Saya pun jadi gatal untuk &#8230; <a href="http://selepas.kemar.in/2012/01/bahasa-menunjukkan-bangsa/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_43" class="wp-caption alignleft" style="width: 190px"><a href="http://www.flickr.com/photos/sercasey/324341982/sizes/s/in/photostream/"><img class=" wp-image-43" title="taking test" src="http://selepas.kemar.in/wp-content/uploads/2012/01/taking-test.jpg" alt="Photo courtesy of Casey Serin" width="180" height="135" /></a><p class="wp-caption-text">Photo courtesy of Casey Serin</p></div>
<p>Lini masa di wadah media sosial twitter beberapa hari ini (sebelum ada kasus <a title="#kamseupay" href="https://twitter.com/#!/search/%23kamseupay">kamseupay</a>) sedang ramai dengan berita Gita Wirjawan yang meminta pegawainya untuk punya nilai TOEFL 600 (Link terkait di <a title="Mulai 2012, Gita Wirjawan Wajibkan PNS-nya Punya TOEFL 600  " href="http://finance.detik.com/read/2012/01/01/110315/1804071/4/mulai-2012-gita-wirjawan-wajibkan-pns-nya-punya-toefl-600?991101mainnews">sini</a>, <a title="Kebijakan Skor TOEFL 600 Dinilai Bisa Bikin Resah" href="http://www.tempo.co/read/news/2012/01/03/079375036/Kebijakan-Skor-TOEFL-600-Dinilai-Bisa-Bikin-Resah">sini</a>, dan <a title="Gita: Lumayan Lah, TOEFL di Atas 600" href="http://economy.okezone.com/read/2012/01/04/320/551756/gita-lumayan-lah-toefl-di-atas-600">sin</a>i). Saya pun jadi gatal untuk ikut menulis tentang hal ini, walau mungkin dari segi yang sedikit berbeda. Yah… karena saya memang agak gemar* (eh…) untuk mengikuti ujian bahasa semacam TOEFL dan teman-temannya itu.</p>
<p>Ujian-ujian bahasa tersebut kebanyakan bertujuan sebagai syarat bersekolah atau bekerja di luar negeri. Ada juga yang sekaligus menjadi syarat untuk tinggal di suatu negara misalnya di Perancis dan Jerman. Ujian bahasa ini bisa diselenggarakan oleh yayasan tertentu seperti pada <a href="http://www.ets.org/toefl">TOEFL</a> dan <a href="http://www.ielts.org/">IELTS</a> atau juga oleh institusi pemerintah negara tersebut misalnya untuk Perancis dan juga (sepertinya) Jerman. Tergantung tujuannya, kadang ada juga jenis ujian yang sifatnya lebih ke akademik dan ada juga yang khusus untuk kesiapan kerja (misal:IELTS <em>Academics</em> dan IELTS <em>General Training</em>).</p>
<p>Beberapa ujian bahasa yang pernah saya coba adalah TOEFL atau <em>Test of Foreign Language</em> (TOEFL<em> paper based</em> tak resmi dan <em>internet based</em> yang resmi), IELTS atau <em>International English Language Testing System</em> yang lebih banyak digunakan oleh negara-negara persemakmuran Inggris, dan juga <a href="http://www.ciep.fr/en/delfdalf/index.php">DELF</a> alias <em>Diplôme d&#8217;études en langue française</em> untuk bahasa Perancis. Lalu, apa yang saya pelajari dari “hobi” saya mengikuti ujian-ujian tersebut?<span id="more-41"></span></p>
<p>Tentu, mau tak mau saya jadi meningkatkan kemampuan bahasa saya. Namun di luar itu, saya jadi lebih mengenal hal-hal tentang negara tersebut. Dan kadang saya rasanya ingin mengumpat dalam hati. Lho, kok bisa-bisanya kutipan pidato Gettysburg-nya Lincoln, cuplikan cerita Mark Twain, suatu peristiwa lampau di Inggris sana, atau spesies aneh di Australia jadi tiba-tiba melintas di kepala saya? Ketika saya mencoba mengingat dari mana saya tahu hal-hal tersebut. Oh iya! Ternyata saya pernah membaca atau mendengarnya ketika sedang mempersiapkan ujian.</p>
<p>Memang, di dalam ujian-ujian tersebut memang banyak soal-soal yang berisi pengetahuan umum tentang negara terkait. <span style="line-height: 24px;"> </span><span style="line-height: 24px;">Cerdas! </span>Jadi, beginilah cara negara-negara tersebut untuk “meracuni” si calon pendatang baru di negeri mereka. Bahasa menunjukkan bangsa? Dan kalau tidak salah, di negara seperti Perancis dan Jerman, syarat penguasaan bahasa ini sekaligus untuk membatasi jumlah imigran yang belum mengenal Perancis. Urusan imigran di Perancis memang cukup sensitif karena banyak imigran dinilai tidak &#8220;menyatu&#8221; dengan budaya Perancis.</p>
<p>Hal lain adalah, saya melihat ujian-ujian ini sebagai bisnis yang cukup menggiurkan. Permintaannya jelas sangat tinggi karena menjadi syarat wajib di banyak tempat, padahal hanya ada sedikit penyelenggara. Bahkan, seperti yang saya alami, mengambil ujian bahasa itu menjadi satu-satunya pilihan. Sebagai contoh, kita memang sering mendengar ujian TOEFL diselenggarakan di banyak tempat tapi sebenarnya yang resmi diakui adalah ujian yang diselenggarakan oleh lembaga bernama <a href="http://www.ets.org/">ETS</a> (<em>Educational Testing Service</em>). Biaya ujiannya cukup mahal, kalau seingat saya sekitar 180 dollar. Untuk DELF Perancis, ujiannya diselenggarakan oleh departemen pendidikannya Perancis dan soal dikirim langsung dari negara tersebut. Biaya ujian DELF memang lebih murah namun jumlah tingkatannya juga banyak sehingga mungkin perlu mengambil beberapa kali. Ini juga cerdas dan cerdik kan? Belum lagi kalau ikut kursus dengan pengajar yang diimpor langsung dari seberang.</p>
<p>Nah, saya tak tahu, ujian apa yang dimaksud oleh Gita Wirjawan. Kalau memang harus berupa ujian resmi dari ETS, wah, lumayan juga dana yang harus disiapkan (dan lumayan juga buat yang untung). Dan tujuannya? Penguasaan bahasa Inggris selaku bahasa internasional jelas perlu, namun saya berharap jangan sampai ini hanya sekedar ramai di permukaan saja, sekedar pencapaian nilai tertentu tanpa paham betul esensinya.</p>
<p>Kadang, terpikir juga, adakah ujian semacam TOEFL khusus untuk Indonesia? Isinya mungkin cuplikan hikayat Sumatra, biografi singkat pahlawan nasional, fenomena gunung berapi Indonesia, atau tentang indahnya pantai di kawasan timur Indonesia. Tapi apakah bakal laku? Hm&#8230; barangkali boleh diuji coba pada atlet-atlet naturalisasi? Atau penduduk asli Indonesia jangan-jangan juga perlu?</p>
<p>*Khusus untuk tulisan ini, sinonim gemar adalah terpaksa <img src='http://selepas.kemar.in/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://selepas.kemar.in/2012/01/bahasa-menunjukkan-bangsa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wajar Tak Wajar</title>
		<link>http://selepas.kemar.in/2011/12/wajar/</link>
		<comments>http://selepas.kemar.in/2011/12/wajar/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Dec 2011 13:54:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nini Purwajati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Peristiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Metromini]]></category>
		<category><![CDATA[transportasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://selepas.kemar.in/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin, saya naik sebuah Metromini no 47 untuk pergi ke rumah saudara saya di daerah Jakarta Timur. Belum sampai tujuan, kenek menyuruh turun untuk pindah ke bus di belakangnya. Oper, demikian istilahnya. Aneh juga, padahal bus cukup penuh dan jalur &#8230; <a href="http://selepas.kemar.in/2011/12/wajar/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://selepas.kemar.in/wp-content/uploads/2011/12/Transjakarta-Mangga-Dua.jpg"><img class="alignright" title="Tapi fotonya Transjakarta bukan Metromini :D" src="http://selepas.kemar.in/wp-content/uploads/2011/12/Transjakarta-Mangga-Dua-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a>Kemarin, saya naik sebuah Metromini no 47 untuk pergi ke rumah saudara saya di daerah Jakarta Timur. Belum sampai tujuan, kenek menyuruh turun untuk pindah ke bus di belakangnya. Oper, demikian istilahnya. Aneh juga, padahal bus cukup penuh dan jalur ini juga masih cukup ramai. Setelah aba-aba sang kenek tersebut, sontak, para penumpang pun kemudian bergegas untuk turun. Kecuali satu ibu. Sang Ibu tersebut menolak turun sambil terus mengomel. Dan ia juga meminta penumpang lain untuk jangan mau berganti bus. &#8220;Kok mau sih yang lain pada turun,&#8221; begitu katanya. Dia berujar kalau penumpang tak mau turun, bus ini pasti akan terus jalan.</p>
<p>Para penumpang lain yang turun melihat ke arah sang Ibu dengan pandangan seolah-olah bahwa Ibu itu terlalu menuntut. Kalau ada yang berani berkomentar mungkin kata-kata &#8220;Terima saja, Bu&#8221; akan meluncur. Saya pun awalnya berpikir demikian. Walau setelah dipikir-pikir, betul juga sebenarnya apa kata Ibu tersebut. Ibu tukang protes ini justru tak salah. Ia menuntut haknya. Dan kita sebagai konsumen sebenarnya bisa memilih untuk tidak pasrah, menolak untuk diperlakukan seenaknya.</p>
<p>Aneh, Ibu yang sebenarnya sangat wajar untuk meminta haknya, malah menjadi tampak tak wajar. Dan kita memang sudah menjelma menjadi terlalu sabar dan <em>nrimo</em>? Padahal kita punya pilihan. Kalau bisa dan kalau mau.</p>
<p><a href="http://selepas.kemar.in/wp-content/uploads/2011/12/Transjakarta-Mangga-Dua.jpg"><br />
</a></p>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://selepas.kemar.in/2011/12/wajar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Boleh dan Tidak Boleh (Tamu atau Pembantu?)</title>
		<link>http://selepas.kemar.in/2011/07/boleh-dan-tidak-boleh-tamu-atau-pembantu/</link>
		<comments>http://selepas.kemar.in/2011/07/boleh-dan-tidak-boleh-tamu-atau-pembantu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jul 2011 16:51:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nini Purwajati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Peristiwa]]></category>
		<category><![CDATA[apartemen]]></category>
		<category><![CDATA[aturan]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://selepas.kemar.in/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan berkunjung ke apartemen seorang kerabat, apartemen yang bagus dengan beberapa kamar. Tentu saja di apartemen tersebut ada kolam renang. Walau tanpa persiapan, namun karena tergoda untuk berenang, nyeburlah saya ke kolam renang dengan mengenakan kaos dan &#8230; <a href="http://selepas.kemar.in/2011/07/boleh-dan-tidak-boleh-tamu-atau-pembantu/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Down to the Swimming Pool by Augapfel, on Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/qilin/3134761551/"><img class="alignleft" title="Bukan ini sih apartemennya :)" src="http://farm4.static.flickr.com/3088/3134761551_659762ca90.jpg" alt="Down to the Swimming Pool" width="400" height="225" /></a> Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan berkunjung ke apartemen seorang kerabat, apartemen yang bagus dengan beberapa kamar. Tentu saja di apartemen tersebut ada kolam renang. Walau tanpa persiapan, namun karena tergoda untuk berenang, <em>nyeburlah </em>saya ke kolam renang dengan mengenakan kaos dan celana pendek. Tak siap dengan baju renang.</p>
<p>Nah, lalu ada satpam bertanya/menegur, &#8220;Tamu atau pembantu?&#8221; Hah, saya pun melongo. Berenang dengan kaos dan celana pendek plus menemani 2 keponakan usia TK tampaknya membuat si satpam memunculkan praduga tersebut. Entah, dari pertanyaannya tersebut, dia lebih yakin dengan yang mana. Si satpam pun melanjutkan, &#8221; Kalau berenang harus dengan pakaian renang, nanti penghuni lain komplain kalau saya membolehkan.&#8221; <span id="more-27"></span></p>
<p>Wow, saya takjub. Pertama, dengan pernyataan, eh pertanyaan pertamanya. Kedua, bahwa ada aturan yang mengatur hingga serinci itu. Saya tak tahu bagaimana bentuk peraturan itu, yang pasti sampai bisa menjadi dasar satpam untuk menegur saya. Ketiga, bahwa alasan adanya aturan ini karena penghuni tak nyaman. Tak nyaman menjumpai orang berenang tanpa baju berenang. Sementara itu, untuk yang ketiga ini, saudara saya berpraduga bahwa alasan di balik pertanyaan tak nyaman itu adalah karena sebenarnya penghuni tak nyaman jika berenang bercampur dengan pembantu. Ya, jika melihat kembali ke pertanyaan pertama, mungkin (waduh, gantian saya ikut berpraduga).</p>
<p>Mungkin memang saya yang norak. Tapi yang pasti saya jadi bertanya-tanya. Apakah peraturan ini juga ada di apartemen lain? Sesuatu yang benar-benar sudah wajar dan menajdi norma barangkali? Kalau iya. Sekali lagi, WOW!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://selepas.kemar.in/2011/07/boleh-dan-tidak-boleh-tamu-atau-pembantu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berani Tidak Keren? Jangan Biarkan Bumi Lenyap Mendahului Kita</title>
		<link>http://selepas.kemar.in/2011/06/berani-tidak-keren-jangan-biarkan-bumi-lenyap-mendahului-kita/</link>
		<comments>http://selepas.kemar.in/2011/06/berani-tidak-keren-jangan-biarkan-bumi-lenyap-mendahului-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Jun 2011 16:27:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nini Purwajati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ide]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://selepas.kemar.in/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Catatan: Ini tulisan saya yang aslinya dalam bahasa Inggris dan sudah ada terjemahan dalam bahasa Prancis, Spanyol, bahkan juga bahasa China, hehehe. Justru belum ada dalam bahasa Indonesia. Jadi, ini dia! Kemajuan Teknologi Siapa bilang hidup ini mudah. Namun, dengan &#8230; <a href="http://selepas.kemar.in/2011/06/berani-tidak-keren-jangan-biarkan-bumi-lenyap-mendahului-kita/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Catatan: Ini tulisan saya yang aslinya dalam bahasa Inggris dan sudah ada terjemahan dalam bahasa Prancis, Spanyol, bahkan juga bahasa China, hehehe. Justru belum ada dalam bahasa Indonesia. Jadi, ini dia! <img src='http://selepas.kemar.in/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </em></p>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 478px"><img title="Berani Tidak Keren" src="http://youthink.worldbank.org/sites/default/files/imagecache/650X398/content-main-images/cleaning_1.jpg" alt="" width="468" height="287" /><p class="wp-caption-text">Sumber: youthink.worldbank.org</p></div>
<p><strong>Kemajuan Teknologi</strong></p>
<p>Siapa bilang hidup ini mudah. Namun, dengan teknologi yang semakin maju, manusia masa kini bisa melakukan hal-hal yang hanya bisa dibayangkan saja di masa lalu. Kendaraan bermotor dan tentunya kereta api serta pesawat membantu kita bepergian jarak jauh dengan cepat. Dalam kehidupan sehari-hari pun, adanya popok plastik membantu para orang tua; tidur mereka bisa agak tenang karena tak harus sering-sering mengganti popok kain sang bayi.</p>
<p><strong>Berlebihan</strong></p>
<p>Teknologi sangat membantu kita, walau bisa saja penggunaannya tidak tepat. Pernah, saya melihat tetangga saya yang masih remaja pergi ke warung di kampung naik sepeda motor. Jarak rumahnya dari warung? Hanya 300 meter! Dia hanya membeli satu bungkus mi instan dan untuk itu dia mendapat kantong kresek hitam gratis. Kantong kresek itu perlu, untuk menggantungkan belanjaannya di sepeda motor. Coba, jika ia memilih untuk berjalan kaki ke warung, ia tidak akan membutuhkan kantong plastik, karena ia bisa membawa mi instan tersebut dengan tangannya.<span id="more-21"></span></p>
<p>Contoh kecil tersebut menunjukkan bahwa penggunaan teknologi kadang-kadang tidak tepat. Kita ingin, walau sebenarnya kita tidak butuh. Kita menjadi tergantung pada teknologi bahkan untuk hal-hal yang sangat sederhana. Lebih buruk lagi, kita menjadi malas. Padahal, manusia modern sudah mengkonsumsi terlalu banyak, dan konsumsi ini tidak berkelanjutan. Per tahun, manusia mengonsumsi sumber daya alam sejumlah 20%* lebih banyak dari yang dapat dihasilkan oleh bumi kita ini. Ini jelas tidak berkelanjutan.</p>
<p>Memang, teknologi membuat hidup kita kini lebih mudah. Tapi beberapa tahun lagi? Pencemaran yang lebih tinggi, lebih banyak sampah, dan berkurangnya daerah hijau akan membuat Bumi kita mati. Sebagai anak muda, tentu saja kita masih ingin melakukan banyak hal,memenuhi  berbagai impian kita. Tapi mungkin bumi tempat tinggal kita bisa saja hilang mendahului kita. Pun, tak ada lagi kesempatan untuk mencapai impian kita.</p>
<p><strong>Mengikuti Tren</strong></p>
<p>Saya ingat, pernah menangis ketika SMP saat  orang tua saya tak mengijinkan saya naik sepeda motor. Batas usia untuk mengendarai sepeda motor adalah 16 tahun dan saat SMP, usia saya adalah sekitar 13 atau 14 tahun. Belum cukup umur. Tapi, rasanya semua teman saya diizinkan untuk mengendarai sepeda motor, orang tua mereka bahkan membuatkan mereka SIM tembak! Jadilah saya menjadi pengguna setia bus kota, si tidak keren.</p>
<p>Selama kuliah (dan sampai sekarang), saya juga selalu membawa botol air sendiri kemana pun saya pergi. Pernah, seorang tetangga yang waktu itu masih berumur sekitar 12 tahun menemukan kebiasaan saya. Komentar dia? &#8220;Kok bawa botol setiap hari? Kayak murid TK!&#8221; Nah,  bahkan untuk ukuran anak ABG, saya yang sudah jadi mahasiswa pun juga tidak keren.</p>
<p>Walau tidak keren, rasanya saya cukup selamat dalam menjalani masa-masa remaja saya, dan kini cukup bersyukur untuk itu semua. Tapi, kalau diingat kembali, masa-masa itu cukup sulit juga. Seperti ketika melihat teman-teman saya bisa melakukan apa yang saya saya tidak bisa lakukan.</p>
<p>Jika merujuk pada tahapan perkembangan Erikson**, pada tahap dua (usia 12-20 tahun) atau remaja, memang adalah rentang usia di mana tampilan sang remaja untuk orang lain adalah hal penting. Jika mereka tidak mengikuti tren, mereka akan menjadi anak yang tidak keren. Penampilan mereka adalah identitas mereka dan tentu saja mereka ingin menjadi anak paling keren dibandingkan dengan yang lain. Selama usia tersebut, remaja  juga mudah dipengaruhi oleh tekanan teman sebaya.</p>
<p>Sayangnya, apa yang menjadi tren biasanya adalah sesuatu yang  sebenarnya tidak perlu. Cara kita mengonsumsi yang tidak tepat, -seperti contoh sebelumnya, dapat memiliki konsekuensi yang besar di masa depan. Kaum muda, harus sadar pada konsekuensi jangka panjang dari tindakan mereka saat ini, untuk dapat bertahan hidup, dan mencapai impian mereka di masa depan.</p>
<p><strong>Mulai dari Hal Sederhana<br />
</strong><br />
Jadi apa yang harus kita lakukan untuk keberlanjutan bumi kita? Solusinya sederhana. Mungkin kita bahkan tidak perlu teknologi baru yang wah. Bukannya hendak mengesampingkan teknologi baru seperti bahan bakar alami atau kendaraan bertenaga surya, namun, dalam banyak kasus, solusinya barangkali sudah ada, dan telah dipraktekkan sejak lama. Coba kita sedikit melihat ke masa lalu. Era di mana kita menggunakan sepeda atau membawa tas sendiri ketika pergi berbelanja. Era di mana kita rela sedikit susah untuk melakukan sesuatu, -karena memang tak ada cara lainnya. Dengan berjalan kaki atau bersepeda mungkin kita perlu waktu 15 menit lebih lama untuk sampai ke sekolah atau tempat kerja, tapi kita bisa memperpanjang usia Bumi kita. Pikirkan tentang masa depan, bayangkan tentang keberlanjutan!</p>
<p>Lalu, bagaimana caranya untuk memulai? Mulailah dari hal-hal kecil. Misalnya, membawa botol minum sendiri. Dengan ini kebiasaan &#8220;hijau&#8221; yang sederhana ini setidaknya kita dapat mengurangi konsumsi harian botol plastik. Berikutnya, kita perlu menemukan beberapa teman yang memiliki kesadaran yang sama. Tidak masalah jika pada awalnya, hanya ada satu teman. Setidaknya, ada dua orang yang dapat saling mendukung satu sama lain. Seperti sudah disebutkan sebelumnya, selama masa remaja, tekanan dari teman sebaya adalah sesuatu yang sulit diabaikan. Ketika orang lain melihat bahwa kita  tidak keren atau &#8220;aneh,&#8221; kita perlu dittemani oleh orang lain untuk dapat berbagi perasaan dan pengalaman kita tersebut.</p>
<p>Juga, kita tidak bisa berharap untuk mengubah lingkungan kita secara drastis, atau untuk semua orang dapat mengikuti cara kita. Mulai dari hal-hal kecil, perlahan tapi pasti. Pelan-pelan membuat orang lain sadar bahwa cara &#8220;hijau&#8221; kita yang mungkin sedikit susah itu bukan masalah. Dan kemudian, mulailah untuk mempengaruhi mereka. Memperkenalkan kepada mereka tentang risiko yang kini dihadapi oleh Bumi ini dengan cara yang sama mereka dapat<br />
dipengaruhi oleh tekanan sebaya untuk mengikuti tren. Buat cara &#8220;tidak keren&#8221; ini menjadi tren baru.</p>
<p>Jadi, mari kita berani untuk menjadi tidak keren demi bumi kita. Kita masih muda. Jangan biarkan bumi kita lenyap sebelum waktunya, mendahului kita.</p>
<p>*http://www.thenews.com.pk/print1.asp?id=100210<br />
** http://www.haverford.edu/psych/ddavis/p109g/erikson.stages.html</p>
<p><em>Dare to be Uncool: Don&#8217;t Let Our Earth Die Before Our Eyes (<a href="http://youthink.worldbank.org/issues/environment/dare-be-uncool-dont-let-our-earth-die-our-eyes">En</a> / <a href="http://youthink.banquemondiale.org/sujets/environnement/etre-ecolo-ce-nest-pas-une-facon-detre-cool-mais-engage">Fr</a> / <a href="http://youthink.bancomundial.org/temas/medio-ambiente/atr%C3%A9vete-ser-poco-%E2%80%9Ccool%E2%80%9D">Esp</a> / <a href="http://nien.posterous.com/youthink-2009">Chn</a>)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://selepas.kemar.in/2011/06/berani-tidak-keren-jangan-biarkan-bumi-lenyap-mendahului-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Halo Dunia!</title>
		<link>http://selepas.kemar.in/2011/05/halo-dunia/</link>
		<comments>http://selepas.kemar.in/2011/05/halo-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 May 2011 10:18:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nini Purwajati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ide]]></category>
		<category><![CDATA[Urbanisasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://selepas.kemar.in/?p=1</guid>
		<description><![CDATA[Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. &#8211; Iman Syafii (dalam Negeri 5 Menara) &#8230; <a href="http://selepas.kemar.in/2011/05/halo-dunia/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>
<img class="alignright" src="http://farm3.static.flickr.com/2139/2135522752_d02c08c6db.jpg" alt="" width="300" height="225" />Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. &#8211; Iman Syafii (dalam Negeri 5 Menara)</p></blockquote>
<p>Pernah, ada teman yang &#8220;asli&#8221; Jakarta, setengah bercanda bilang ke saya, &#8220;Lu tu menuh-menuhin Jakarta aja!&#8221; Mungkin bercanda, atau mungkin memang serius. Di banyak diskusi tentang perkembangan perkotaan, topik urbanisasi ini terus saja hangat untuk dibicarakan. Aliran yang cukup <em>old school</em> kebanyakan  kontra pada urbanisasi dan akan mengajukan pengurangan kesenjangan kota dan daerah sebagai solusi. Sementara itu, untuk aliran yang berlawanan, perkembangan kota itu memang tidak bisa dihindari dan harus diantisipasi. Ya, urbanisasi membuat kota tambah ruwet, namun bagi mereka, kota yang semakin <em>urbanized</em> justru bukan hal yang negatif tapi membawa unsur dinamis ke kota, untuk kota yang lebih hidup.</p>
<p><span id="more-1"></span>Saya pun ternyata juga harus mengalami urbanisasi, merantau ke Jakarta. Sedikit karma karena dulunya saya cukup anti pada urbanisasi, namun untungnya tetap saya coba. Tak menyesal karena pengalaman ini begitu berharga. Tantangan yang semakin besar. Hal-hal baru yang cukup &#8220;ajaib&#8221;. Indonesia yang begitu beragam pun jadi bisa dirangkum di kota ini. Kota yang lebih besar memang memberikan lebih banyak kemungkinan bertemu kenalan baru dari berbagai latar belakang. Saya pun jadi belajar untuk mengerti dan sepertinya ini menjadi pelajaran berharga dalam hal bertoleransi. Dan, baik akhirnya nanti memilih untuk tinggal di tempat baru ini ataupun kembali lagi, satu yang pasti, jauh dari asal membuat penghargaan saya akan Yogyakarta, kota asal saya menjadi lebih tinggi lagi. Seperti kata orang, <em>you don&#8217;t know what you&#8217;ve got till its gone.</em></p>
<p>Meski demikian, sampai sekarang, rasanya saya belum benar-benar merasakan kota ini sebagai rumah. Jadi, halo dunia! Sembari terus belajar menyesuaikan, di sinilah <a href="http://selepas.kemar.in">rumah sementara</a> saya. Silakan berkunjung kapan saja!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://selepas.kemar.in/2011/05/halo-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

