Tag Archives: Jakarta

Parkir Bawah Tanah

Jakarta selalu membuat saya takjub, ada macam-macam hal yang bisa ditemui. Contohnya saja kawasan SCBD (Senayan Central Business District) yang tak punya kabel malang-melintang di atasnya, utilitas ditanam di bawah tanah. SCBD sangat rapi, modern dengan gedung-gedung jangkung. Terkadang, saya merasa kehilangan orientasi sejenak jika sedang di SCBD. Bertanya-tanya, di manakah aku berada? Singapura? Nah, tapi saya kaget menemukan terowongan underpass yang berfungsi sebagai tempat parkir sepeda motor.  Kebetulan, gedung yang saya kunjungi ternyata tak punya tempat parkir sepeda motor. Perencanaan yang meleset? Atau implementasi yang kreatif? Hehehe, yang pasti, ini bukti bahwa SCBD tetap setia memanfaatkan bawah tanah yang sebenar-benarnya…

Terowongan underpass di kawasan SCBD yang dipakai untuk tempat parkir sepeda motor

Terowongan underpass di kawasan SCBD yang dipakai untuk tempat parkir sepeda motor

Wajar Tak Wajar

Kemarin, saya naik sebuah Metromini no 47 untuk pergi ke rumah saudara saya di daerah Jakarta Timur. Belum sampai tujuan, kenek menyuruh turun untuk pindah ke bus di belakangnya. Oper, demikian istilahnya. Aneh juga, padahal bus cukup penuh dan jalur ini juga masih cukup ramai. Setelah aba-aba sang kenek tersebut, sontak, para penumpang pun kemudian bergegas untuk turun. Kecuali satu ibu. Sang Ibu tersebut menolak turun sambil terus mengomel. Dan ia juga meminta penumpang lain untuk jangan mau berganti bus. “Kok mau sih yang lain pada turun,” begitu katanya. Dia berujar kalau penumpang tak mau turun, bus ini pasti akan terus jalan.

Para penumpang lain yang turun melihat ke arah sang Ibu dengan pandangan seolah-olah bahwa Ibu itu terlalu menuntut. Kalau ada yang berani berkomentar mungkin kata-kata “Terima saja, Bu” akan meluncur. Saya pun awalnya berpikir demikian. Walau setelah dipikir-pikir, betul juga sebenarnya apa kata Ibu tersebut. Ibu tukang protes ini justru tak salah. Ia menuntut haknya. Dan kita sebagai konsumen sebenarnya bisa memilih untuk tidak pasrah, menolak untuk diperlakukan seenaknya.

Aneh, Ibu yang sebenarnya sangat wajar untuk meminta haknya, malah menjadi tampak tak wajar. Dan kita memang sudah menjelma menjadi terlalu sabar dan nrimo? Padahal kita punya pilihan. Kalau bisa dan kalau mau.


Boleh dan Tidak Boleh (Tamu atau Pembantu?)

Down to the Swimming Pool Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan berkunjung ke apartemen seorang kerabat, apartemen yang bagus dengan beberapa kamar. Tentu saja di apartemen tersebut ada kolam renang. Walau tanpa persiapan, namun karena tergoda untuk berenang, nyeburlah saya ke kolam renang dengan mengenakan kaos dan celana pendek. Tak siap dengan baju renang.

Nah, lalu ada satpam bertanya/menegur, “Tamu atau pembantu?” Hah, saya pun melongo. Berenang dengan kaos dan celana pendek plus menemani 2 keponakan usia TK tampaknya membuat si satpam memunculkan praduga tersebut. Entah, dari pertanyaannya tersebut, dia lebih yakin dengan yang mana. Si satpam pun melanjutkan, ” Kalau berenang harus dengan pakaian renang, nanti penghuni lain komplain kalau saya membolehkan.”  Continue reading