Tag Archives: Metromini

Wajar Tak Wajar

Kemarin, saya naik sebuah Metromini no 47 untuk pergi ke rumah saudara saya di daerah Jakarta Timur. Belum sampai tujuan, kenek menyuruh turun untuk pindah ke bus di belakangnya. Oper, demikian istilahnya. Aneh juga, padahal bus cukup penuh dan jalur ini juga masih cukup ramai. Setelah aba-aba sang kenek tersebut, sontak, para penumpang pun kemudian bergegas untuk turun. Kecuali satu ibu. Sang Ibu tersebut menolak turun sambil terus mengomel. Dan ia juga meminta penumpang lain untuk jangan mau berganti bus. “Kok mau sih yang lain pada turun,” begitu katanya. Dia berujar kalau penumpang tak mau turun, bus ini pasti akan terus jalan.

Para penumpang lain yang turun melihat ke arah sang Ibu dengan pandangan seolah-olah bahwa Ibu itu terlalu menuntut. Kalau ada yang berani berkomentar mungkin kata-kata “Terima saja, Bu” akan meluncur. Saya pun awalnya berpikir demikian. Walau setelah dipikir-pikir, betul juga sebenarnya apa kata Ibu tersebut. Ibu tukang protes ini justru tak salah. Ia menuntut haknya. Dan kita sebagai konsumen sebenarnya bisa memilih untuk tidak pasrah, menolak untuk diperlakukan seenaknya.

Aneh, Ibu yang sebenarnya sangat wajar untuk meminta haknya, malah menjadi tampak tak wajar. Dan kita memang sudah menjelma menjadi terlalu sabar dan nrimo? Padahal kita punya pilihan. Kalau bisa dan kalau mau.